IQ 83, Judol, Bokep, dan Aktivitas Membaca

IQ 83, Judol, Bokep, dan Aktivitas Membaca

Seorang rekan menuliskan status di media sosial yang mengatakan, jika bangsa ini  memiliki IQ relative rendah, minat baca sangat kurang. Lanjutannya lebih  miris lagi, jadi penyuka film porno terbesar di dunia dan juga pemain judol paling gede.

Hal ini pasti bukan semata othak athik gathuk, namun sebuah rangkaian yang sangat logis. Pemilik intelektual rendah, karena memang diawali dengan kurangnya minat membaca. Hal ini perlu diakui dan dijadikan Pelajaran bahwa memang memprihatinkan.

Lebih jauh dari itu, dampak kekurangan informasi karena rendah membaca, jelas IQ rendah. Hasil dari itu adalah dunia Impian, membedakan mana yang maya dan real sangat susah. Tidak heran, dunia maya demikian digandrungi di negeri ini.

Sayang bahwa dua hal teratas itu berkonotasi sangat buruk dan tidak bersifat konstruktif. Malah cenderung memiliki daya rusak yang sangat parah, terutama jika sudah menjangkiti generasi muda.

Mental mimpi. Bagaimana mimpi kaya tanpa kerja keras, sehingga memainkan perjudian untuk membangun citra diri kaya raya. Hal yang jelas berasal dari minim literasi selain bermimpi, bahwa dunia dengan mudah diraih, tanpa kerja keras, dan sekadar main dadu semata. Miris.

Sama juga dengan penyuka bokep. Benar bahwa hamper semua laki-laki pernah menonton itu. Namun, jika sudah menjadi sebuah kebutuhan atau candu, jelas kehilangan akal sehat. Begitu banyak waktu bisa dipakai untuk kegiatan positif, namun habis untuk hal yang sejatinya penuh dengan trik dan tipuan.

Memiliki intelektual rendah, sehingga pemikirannya cupet, ya paling cepet hidup dalam alam khayal bahkan tipuan sekalipun dianggap kebenaran. Hal yang sebenarnya tidak nyatapun tidak paham. Bagaimana memahami bahwa itu tipuan, itu adalah  rekayasa, apa yang dihadapi itu semata permainan, semua dianggap sungguh-sungguh.

Terlalu berat untuk mengadakan analisis mendalam. Modal pisau bedah analisisnya juga tidak ada. Masalahnya menjadi lingkaran setan.

Apa yang perlu dilakukan adalah system pendidikan yang  perlu perbaikan dengan sungguh-sungguh, tidak sekadar hapalan dan kebingungan dengan segala tetek bengek kertas, yang berujung pada aksi tipu-tipu lagi.

Persoalan yang belum ada solusi jitu memang, namun perlu optimis bahwa aka nada perubahan signifikan. Hal yang penting, karena jika pesimis, ya sudah, semua berabe.

Salam Penuh Kasih

Susy Haryawan