Prabowo yang Diberi Nilai 5 dan 11 Bukan Kemenhan

Prabowo yang Diberi Nilai 5 dan 11 Bukan Kemenhan

Debat ketiga yang membuat Prabowo babak belur masih berbuntut panjang. Ada dua hal yang cukup lucu, aneh, dan kekanak-kanakan, dan itu laik diulik dengan cerdik.

Pertama, mengaitkan dengan Kemenkopolhukam, yang kebetulan dijabat oleh kompetitornya. Dengan mengatakan, jika Prabowo gagal, bagaimana Mahfud  MD bisa lepas tangan. Seolah-olah itu logis.

Kedua, sewot atau tersinggungnya TNI AD, AL, AU, yang merasa ikut terhina oleh penilaian gagal bahkan jeblok itu. Lagi-lagi apakah ini benar? Seolah sih logis. Yuk kita kupas.

Pertama, yang mendapatkan nilai jelek itu Prabowo karena kemampuannya mengenai pertahanan dianggap buruk oleh Ganjar dan Anies, bukan Kementerian Pertahanan yang menjadi tanggung jawab Mahfud MD selaku Menkopolhukam. Mosok ada anak SD diberi nilai lima ketua kelasnya kudu ikut bertanggung jawab?

Kedua, yang dinilai itu kemampuan Prabowo dalam menguasai hal ikhwal pertahanan, dan seharusnya ia pinter jika memang mampu bekerja dan memiliki kemampuan itu. Sayang malah   menjadi blunder, dan babak belur, karena memang tidak becus.

Ketiga, mengapa TNI ikut tersinggung? Jika Lembaga yang dianggap jeblok, tidak bisa bekerja, boleh mereka meradang. Malah harusnya mereka malu memiliki pimpinan yang tidak kompeten, bukan malah malu dinilai jelek.

Identik dengan  malu jika miskin, lebih baik maling. Korupsi merajalela karena banyak elit dan pejabat negeri ini mementingkan gaya hidup dan mau hidup sederhana, apalagi miskin.

Logika ngaco ini dimiliki oleh sedemikian banyak elit negeri ini. Pantes menjadi kacau balau seperti ini. Orang yang tidak kompeten dibela mati-matian, atas nama korp, kan salah.

Pola pikir kanak-kanak, di mana siapa yang dinilai dan dikritik, siapa yang marah dan tersingung. Hal biasa penilaian, memberikan kritik itu, sikap berlebihan dalam menerima itu adalah kedewasaan.

Wajar ketika mengatakan  tolol dan bloon malah dianggap candaan bukan kemarahan, karena memang barisannya orang-orang yang logikanya bengkok, atau membengkokan logikanya sendiri seperti itu. Membedakan makian dan candaan saja tidak becus, apalagi mau mengelola negara.

Gambaran utuh yang didukung dan mendukung itu satu frequensi, dan orang-orang demikian yang mau memimpin negeri? Miris. Pola pikir mlengse yang dianggap benar. Mau karena takut apalagi memang sama-sama sesat pikir, itu kan mengerikan.

Salam Penuh Kasih

Susy Haryawan