Sandiaga Uno Pindah P3?

Pergerakan politik menjelang pilpres makin seru. Ada dugaan pindah partai pula. Jika benar demikian, tentu akan meramaikan pertaruhan politik di 2024. Apa iya, cawapres pasangan Prabowo ini pindah partai dan bagaimana dinamikanya sih?

Gerindra, sepanjang ada Prabowo, mau jungkir balik tetap saja tidak akan bisa naik menjadi capres, bagi Sandiaga Uno jelas bukan prestasi. Mosok mau nyawapres lagi?

Desas-desus mengatakan, bahwa Sandiaga Unolah yang banyak modalin pencalonan bareng Prabowo. Artinya, jika masih di partai lama, selain posisi yang identik, masih juga kudu bayar beaya untuk pilpres, dengan asumsi yang masih sama saja.

Nah, jika kemarin kalah dengan posisi dan komposisi yang sama, tentu Sandiaga Uno juga berhitung dan bisa jadi mau peruntungan yang lain. Siapa tahu  partai barunya mau menjadikan jagoan untuk “naik posisi” menjadi bakal calon presiden, kan mayan.

Jika sekadar menjadi bakal calon presiden sih terlalu berat dan naif. Pertaruhan yang sangat besar. Bagaimana posisi P3 itu tidak sangat signifikan, hanya penggembira, tanpa cukup memiliki posisi tawar yang cukup.

Berbeda jika pindah ke partai sama-sama besar, Golkar atau PDI-P. Masalahnya adalah, apakah partai besar itu juga mau mengusung sebagaimana keinginan Uno atau P3? Kemungkinan itu cukup kecil.

Nama Sandiaga Uno juga tidak cukup menjual. Survey-survey tidak pernah merilis hasil yang gilang gemilang dengan nama menteri ini. Mengapa?

Memang kapasitasnya juga tidak cukup mumpuni untuk meyakinkan publik bahwa ia layak menjadi presiden atau wakil presiden. Lihat saja, apa yang ia lakukan sebagai menteri. Tidak ada terobosan yang sungguh berarti dan menjadikan publik tercengang.

Bersama Prabowo, terutama selama masa kampanye juga tidak menunjukkan kapasitas lebih yang bisa meyakinkan publik bahwa ia bisa memimpin. Malah cenderung asal tenar dengan aneka dagelan yang ia ciptakan, bertopi pete, telpon dengan tempe, dan aneh-aneh yang malah memalukan sebenarnya.

Kemampuannya ya memang hanya segitu. Tidak bisa lebih, lha menteri saja juga gak ada capaian, mosok menjadi kepala menteri. Terlalu jauh jika berharap menjadi presiden. Sama juga dengan suara P3, jika mereka mau mengusungnya menjadi bakal calon presiden.

Mau berkoalisi  dengan siapa coba? Semua partai sudah berhitung dan sudah punya jagoan masing-masing, hanya masih menunggu momen yang tepat. Nama baru, seperti Sandi ini tidak masuk dalam radar parpol gede.

Paling-paling juga menjadi ketua umum, sekadar jaga-jaga untuk masuk kabinet mendatang jika ikut gerbong yang menang. Ini sudah mentok, tetapi potensi ada friksi dengan loyalis bisa juga terjadi. Tidak lebih dari jabatan ini.

Salam Penuh Kasih

Susy Haryawan

Leave a Reply