Sucinya Roy Suryo Dunia Akherat

Hari-hari ini ramai menyoal pernyataan Menag Gus Yaqut mengenai ilustrasi pengeras suara. Ogah mengupas aturan mengenai pengeras suara yang menjadi awal terjadinya laporan Roy Suryo ke pihak kepolisian.

Entah apa yang ada di benak mantan Menteri Pemuda dan Olah Raga era SBY ini, sehingga begitu sigapnya melapor kepada penegak hukum yang berujung penolakan. Pemberitaan itu sangat sumir, saya yakin 1000 % bahwa Menag tidak segila itu, apa yang ia atur, ia nyatakan, dan ia lakukan pasti dengan pertimbangan yang sangat matang.

Pengaturan dan juga peraturan itu juga terjadi di Arab Saudi, negara tetangga Malaysia juga sama. Padahal mereka negara agama, berbasis agama saja mengatur itu. Lha ini negara  Pancasila kog malah ugal-ugalan. Pengaturan demi kebaikan bersama, juga penghargaan atas agamanya sendiri.

Menag orang waras dan orang baik, bukan orang stres yang menistakan agama apapun, apalagi iman dan keyakinanya sendiri. Mana ada coba? Maka, itu bukan hal penting dan mendesak untuk dibahas. Lebih penting mengupas perilaku Roy Suryo ini.

Dulu, ketika ada isu Ahok mau menjadi kepala IKN Nusantara, serta merta ia menghardik dan mengatakan bekas napi mana bisa menjadi pemimpin. Masuk bui karena sikap bertanggung jawab jelas lebih luhur dari pada tidak pernah masuk penjara karena tidak berani bertanggung jawab atas perbuatan sendiri.

Dia pelaporan polisi juga cukup banyak. Kasus tagihan barang negara yang dibawa  pulang itu juga sebenarnya tidak sepele. Namun kog, merasa paling baik sedunia akherat dan menghakimi yang pernah masuk penjara. Jangan lupa, Bung Karno, Nelson Mandela,  Mahatma Gandhi, dan banyak tokoh dunia, pemimpin negara kelas dunia juga alumni bui karena politik.

Kini, melaporkan Gus Yaqut dengan dasar asumsi yang sangat lemah. Mana ada sih Menteri Agama, menistakan agama, kepercayaannya sendiri lagi. Ini sangat ngaco.

Agenda Demokrat yang jauh lebih terbaca, membuat gaduh dan kekacauan, ada Wadas, kota halal Malang, pesawat di Malinau, semua melibatkan kader mercy, baik langsung ataupun tidak. Pandemi saja dipolitisasi apalagi yang memang orang politik yang dijadikan polemik.

Salam Penuh Kasih

Susy Haryawan