FEATURED

Mabok Dogma, Abai Adab

Mabok Dogma, Abai Adab

Akhir-akhir ini miris menyaksikan perilaku orang beragama. Ingat orang beragama, bukan mengenai agama. Bisa membedakan to? Jelas, lugas, dan sangat berlainan. Artikel ini mengulik mengenai perilaku orang yang beragama, kebetulan keyakinannya kog sama. Apakah ini sekadar kebetulan ataukah memang perilakunya demikian, bukan bagian dari ulikan artikel ini.

Perusakan Rumah Retret

Sekelompok orang, usai melakukan ritual keagamaan, yang menandakan religiusitas, bukan kemusyrikan katanya, namun memaksa masuk properti pihak lain. Setelah masuk merusak, mengintimidasi, dan memaksa kegiatan pihak lain untuk bubar.

Pimpinan daerah setempat hadir, dalam hal ini Kang Dedi Mulyadi. Ia hadir mengganti kerugian material sejumlah Rp. 100.000.000,00, eh malah sama pemiliknya diberikan untuk sumbangan perbaikan rumah ibadah “para perusak.” Tidak heran netizen ramai-ramai berkomentar, kog diterima ya, kog tidak malu ya, dan sejenisnya. Miris.

Goyang Wisatawan Indonesia di Depan Patung Buddha di Thailand

Lagi dan lagi perilaku beragama, orang-orang itu, turis dari Indonesia mengenakan pakaian khas agama tertentu. Mereka jelas dengan sadar merekam jogedan mereka di depan patung Buddha yang sangat dihormati di Thailand. Terlihat bahagia,  gembira, dan juga ceria, bukan keterpaksaan, atau tanpa sadar melakukan itu.

Mirip dengan apa yang telah dilakukan sekelompok orang yang berphoto di area situs petirtaan, padahal sedan gada yang beribadah. Apa ya tidak kasihan ada orang yang sedang sembahyang dan ada yang berpose foto-foto.

Padahal sederhana saja, apakah aku jengkel, marah, kecewa, sedih jika diperlakukan demikian. Ukuran itu sederhana saja. Tidak usah rumit-rumit. Sayang  tidak model demikian cara pikir dan  cara beragamanya.

Adab

Salah satu ciri adab adalah hormat. Menghormati pihak lain apapun latar belakangnya. Mau sama ataupun berbeda seharusnya penghormatan yang sama, tidak membeda-bedakan. Sejatinya malah aneh ketika  mengaku beragama, beriman, dan meyakini saleh, taqwa namun perilakunya merendahkan pihak lain. Memaksakan kehendak, merusak, kekerasan. Apa ada sih agama kog mengajarkan kekerasan, memaksakan kehendak, tidak hormat, merusak, dan mengintimidasi yang berbeda.

Apakah tidak lebih tepat orang yang beriman mendalam itu lebih welas asih, damai, tenang, lembut, dan penuh toleransi? Sepertinya ini layak untuk menjadi bahan renungan bersama,  tidak sekadar jargon dan kata-kata suci tanpa isi.

Hidup bersama dalam  Bhineka Tunggal Ika itu membahagiakan, saling melengkapi bukan meniadakan. Betapa damai jika beragama dengan akal sehat dan saling menghormati.

Salam Penuh Kasih

Susy Haryawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *