FEATURED

Bullying dan Lingkaran Setan Pelarian: Mengapa Pergi Bukan Solusi Hakiki?

Fenomena perundungan atau bullying seolah menjadi hantu yang terus membayangi dunia anak-anak dan remaja. Dari hari ke hari, laporan mengenai korban—dan ironisnya, pelaku—perundungan semakin marak. Dalam banyak kasus, solusi yang paling sering diambil oleh orang tua maupun korban adalah menarik diri: meninggalkan sekolah, keluar dari komunitas, atau pindah ke lingkungan baru. Seolah-olah, angkat kaki adalah satu-satunya jalan keluar yang paling tepat dan menyelamatkan. Namun, benarkah demikian?

Jebakan Solusi Instan

Meninggalkan sumber perundungan memang terlihat sebagai jalan pintas yang paling mudah. Ini adalah respon alami manusia ketika menghadapi ancaman: fight or flight (lawan atau lari). Namun, realitas pahit yang harus kita sadari adalah tidak ada tempat yang benar-benar bebas dari perundungan.

Sebab perundungan bisa sangat subjektif. Apapun bisa menjadi pemicu bagi seseorang untuk merundung orang lain—mulai dari penampilan, prestasi, hingga karakter yang dianggap lemah. Jika kita mendidik anak untuk sekadar pergi tanpa membekali mereka dengan ketahanan mental, kita sebenarnya tidak sedang menyelesaikan masalah. Kita hanya menunda masalah tersebut sampai ia muncul kembali di tempat yang baru. Jika di tempat baru kejadian yang sama terulang, apakah mereka akan lari lagi? Menghindari masalah bukanlah cara keluar dari persoalan; itu adalah cara memelihara kerentanan.

Membedakan Fakta dari Asumsi

Perundungan sering kali tumbuh subur dalam ruang ketakutan korbannya. Banyak anak yang merasa takut bukan karena fakta yang terjadi di depan mata, melainkan karena narasi mengerikan yang dibangun oleh pikiran mereka sendiri. Di sinilah pentingnya membangun sikap batin untuk membedakan mana yang merupakan fakta dan mana yang sekadar asumsi.

Sebagai contoh, rasa cemas bahwa “semua orang di sekolah akan menertawakanku jika tahu aku dirundung” sering kali hanyalah asumsi. Faktanya, mungkin hanya segelintir orang yang tahu, dan dari yang tahu pun, responnya beragam: ada yang tidak peduli, ada yang sekadar ikut-ikutan, namun pasti ada pula yang bersimpati dan siap membantu. Dengan membedah ketakutan menjadi fakta-fakta kecil yang rasional, beban mental korban akan terasa lebih ringan. Kita harus mampu bertanya pada diri sendiri: “Apakah bahaya ini nyata, atau hanya bayangan besar di kepalaku?”

Agere Contra: Melawan dengan Tindakan Sebaliknya

Salah satu metode psikologis yang kuat untuk menghadapi ketakutan adalah Agere Contra, atau melakukan hal yang sebaliknya. Jika rasa takut membisikkan agar kita mendekam di kamar dan tidak berangkat sekolah, maka tindakan penyembuhnya adalah dengan memaksakan diri untuk berangkat. Jika asumsi mengatakan bahwa jalan menuju  toilet atau perpustakaan adalah tempat yang mengerikan, maka kita harus memberanikan diri ke sana.

Cara-cara ini secara perlahan akan mengikis kecemasan yang berasal dari asumsi. Setiap langkah kecil yang melawan rasa takut adalah bukti nyata bagi diri sendiri bahwa perasaan cemas tersebut tidak sepenuhnya faktual. Ini adalah latihan untuk membuktikan bahwa dunia tidak semengerikan apa yang dibayangkan oleh rasa trauma.

Membangun Ketahanan Mental

Menghadapi sumber masalah, dengan segala risikonya, adalah investasi jangka panjang bagi karakter seseorang. Sama halnya dengan “Kawasan Bebas Rokok” yang tetap saja dilanggar oleh orang-orang tertentu, “Kawasan Bebas Bully” adalah utopia yang sulit diwujudkan secara sempurna di dunia nyata karena batasan perilaku manusia yang sering kali abu-abu.

Oleh karena itu, solusi terbaik bukanlah mencari lingkungan yang steril dari masalah, melainkan membangun ketahanan mental (resiliensi). Dengan berani bersikap, menyatakan penolakan secara gamblang, dan menghadapi situasi yang sulit, seseorang sedang belajar cara bertahan hidup di manapun ia berada. Keberanian untuk menghadapi perundungan hari ini adalah modal utama untuk menyelesaikan masalah-masalah yang lebih besar di masa depan. Perundungan hanya akan berhenti ketika kita berhenti memberikan izin kepada pelaku untuk menguasai ruang batin kita.

Salam Penuh Kasih

Susy Haryawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *