Jateng Mencekam, Karena Pilkada?
Jateng Mencekam, Karena Pilkada?
Beberapa hari lalu berseliweran nama-nama geng di Semarang. Hal yang cukup aneh, di mana kota ini cenderung kondusif, dan jauh dari model kekerasan ala gangster remaja, muda ini. Beda dengan klitihi di Jogya yang memang sudah menahun. Kog seolah-olah tiba-tiba.
Eh hari ini di WAG RT ada flyer dari kepolisian untuk memastikan anak-anak sudah ada di rumah pukul 22. Kegaduhan, terlalu berlebihan sih jika menggunakan istilah kegawatan. Ini hanya gaduh dan mau menciptakan suasana mencekam, dan akan ada “pahlawan” yang hadir. Siapa lagi kalau bukan karena pilkada.

Rumor-rumor kekerasan dan pembacokan, ketidakamanan begitu kuat memenuhi beranda media percakapan dan media sosial. Kondisi yang terlalu naif jika dikatakan ini sebagai natural. Jauh lebih bisa diyakini sebuah skenario.
Amatan, yang bisa salah, namun juga dapat juga benar, di lingkungan sekitar, sekarang ini banyak polisi yang menangkapi para pengendara di jalan raya. Identik masa lalu, tahun 90-an. Entah ini ada korelasi dengan keberadaan geng tiba-tiba ini, atau karena pilkada, kebetulan calonnya adalah mantan petinggi polisi.
Kemarin, berseliweran video pendek calon gubernur Andika Prakasa dicuekin Kapolda Jateng dan Pj Gubenur Jateng, yang sama-sama polisi. Mungkin sangat jauh dari fakta yang ada atau senyatanya. Namun, kog semua seolah nyambung dengan keadaan.
Posisi kedua calon dalam kondisi dua kutub yang berseberangan. Eh malah keduanya dari dua kesatuan yang sama-sama kuat. Satunya militer, satunya lagi polisi. Masing-masing sedang mau menancapkan kekuasaan dan kemutlakan dalam menguasai negeri ini dalam konteks ini tentu saja Jawa Tengah.
Jika benar, bahwa ini adalah aksi politik, sudah keterlaluan. Mosok demi kekuasaan mengorbankan rakyat dan daerah? Apa layak partai atau orang demikian menjadi pemimpin?
Suka atau tidak, hal demikian masih yang dominan dalam perpolitikan bangsa ini. Masih perlu waktu banyak berdemokrasi dengan cerdas, waras, dan santun. Pemimpin bukan penguasa, pelayan bukan malah menjadi tuan.
Harapan tetap harus dinyatalakan. Semua akan bisa harmonis, pemimpin yang melayani.
Salam Penuh Kasih
Susy Haryawan
