Politisasi Narasi Iran
Antara Diplomasi “Main Kayu” dan Gengsi Domestik
Dinamika geopolitik global saat ini sedang berada di titik didih, terutama menyangkut perseteruan abadi antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat. Bagi Amerika Serikat, yang kerap menggunakan strategi “main kayu” atau tekanan fisik dan ekonomi, Iran terbukti menjadi anomali yang menjengkelkan. Setelah merasa sukses melumpuhkan Venezuela dan mengobrak-abrik Irak serta Libya, Washington mungkin mengira Teheran akan jatuh dengan skenario yang sama. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa Iran bukanlah lawan yang bisa disederhanakan dalam kalkulasi hitam-putih.
Narasi Agama dan Distorsi Informasi
Gema konflik di Timur Tengah ini merembet kuat ke tanah air, menciptakan kegaduhan yang tak kalah hebat. Di Indonesia, isu ini sering kali ditarik ke ranah sensitif: narasi agama. Iran dicitrakan sebagai representasi kekuatan Islam, sementara Israel berdiri sebagai gambaran Yahudi.
Sayangnya, perdebatan di ruang publik kita sering kali tidak didasari oleh data geopolitik yang jernih, melainkan oleh banjir video palsu, gambar manipulatif, dan berita burung yang diproduksi demi kepentingan propaganda. Akibatnya, masyarakat terjebak dalam sentimen emosional yang mengaburkan substansi masalah yang sebenarnya.
Sengkarut Kapal Tanker dan Diplomasi “Panggung”
Babak baru ketegangan ini menyentuh kepentingan langsung Indonesia melalui insiden kapal niaga milik Pertamina yang sempat terkatung-katung. Narasi yang beredar di media sosial sangat masif dan kontradiktif. Ironisnya, banyak narasi yang justru cenderung mendeskreditkan negara sendiri demi kepentingan politik praktis.

Di sinilah letak uniknya politik Indonesia. Muncul klaim-klaim prestasi dari berbagai faksi: ada yang menyebut politikus senior Jusuf Kalla sukses melobi Teheran, hingga narasi mengenai dialog Megawati Soekarnoputri dengan kedutaan Iran di Jakarta. Ada pula selentingan bahwa pembebasan ini adalah hasil barter dengan dilepaskannya kapal Iran yang ditahan Indonesia beberapa tahun lalu. Terlepas dari siapa yang paling berjasa, melunaknya sikap Iran seharusnya dipandang sebagai kemenangan strategis, bukan sekadar komoditas panggung politik domestik.
Keberanian vs Perhitungan Strategis
Beberapa pihak membandingkan sikap Indonesia dengan India yang mengirim kapal perang untuk membebaskan tanker mereka. Muncul anggapan bahwa Indonesia “penakut”. Namun, diplomasi bukanlah soal adu otot semata. Perang dan pengerahan kekuatan militer memerlukan kalkulasi matang demi keamanan dan kesejahteraan bangsa. Diplomasi yang efektif adalah diplomasi yang memberikan hasil nyata tanpa harus mengorbankan stabilitas nasional.
Persoalan menjadi makin pelik saat muncul isu bahwa Iran tidak lagi menganggap Indonesia sebagai sahabat karena absennya pernyataan resmi yang mengutuk Israel secara frontal dalam konteks tertentu. Di sini, posisi Indonesia memang dilematis, terutama saat terjepit dalam komunitas internasional atau aliansi strategis seperti Board of Peace (BoP). Bersama Israel yang sedang bertikai. Lucu jadinya.
Menagih Kembali Politik Bebas Aktif yang Hakiki
Kesalahan diplomasi yang bertubi-tubi belakangan ini tidak boleh dibiarkan menjadi masalah berkepanjangan. Indonesia harus kembali menyadari hakikat politik luar negeri Bebas Aktif. Kita merindukan era di mana Indonesia menjadi pelopor dan disegani, bukan menjadi tertawaan dunia karena manuver yang kacau balau dalam memilih rekan strategis.
Kondisi domestik yang disibukkan dengan polemik program makan siang gratis hingga koperasi desa, seharusnya tidak membuat kita buta terhadap panggung global. Indonesia adalah negara besar dengan potensi kekuatan yang masif, bukan negara semenjana yang tidak memiliki power untuk menjadi pionir.
Salam penuh Kasih
Susy Haryawan
