FEATURED

Paus Nyindir Jokowi

Paus Nyindir Jokowi

Tempo membuat cover dengan gambar Paus Fransiskus makan mie cup di dalam pesawat komersial. Di jendela pesawat terlihat jet pribadi melintas. Media lain mengambil judul “Orang yang Mengeruk Kekayaan dari Orang Lain, adalah Orang Malang.”  Netizen memplesetkan menjadi orang Solo.

Kesederhanaan pemimpin Gereja Katolik itu selalu disorot sejak menginjak di bandara Suta dan mengendarai pesawat komersial dan mobil biasa. Publik langsung mengaitkan dengan keberadaan keluarga Presiden RI saat ini. Ingat, konteksnya adalah sekarang.

Media dan netizen mengait-kaitkan keberadaan paus, penampilan, pilihan, dan juga kalimat-kalimat yang disampaikan adalah seolah sindiran dan nasihat untuk elit negeri ini, khususnya Presiden Jokowi dan keluarganya. Kesederhanaan Paus Fransiskus dihubungkan dengan perjalanan Kaesang dan Bobby yang menggunakan jet pribadi.

Apakah Paus Fransiskus melakukan sindiran dan molitik seperti itu?

Sama sekali tidak. Itu perilaku teri bukan paus jika model nyindir demikian. Apa yang Paus Fransiskus lakukan adalah memang dirinya yang demikian itu. Ia mengatakan ide, gagasan, atau pikiran harus sama denga napa yang diucapkan, dan dilakukan. Ketiganya harus sama.

Maunya netizen dan media di Indonesia, terutama yang lagi jengkel, gemes, dan kecewa dengan perilaku dan ugal-ugalannya Presiden Jokowi adalah kata-kata Paus Fransiskus dengan lugas dan terus terang mengatakan, ‘Hei Presiden Jokowi, sederhanalah kek yang dulu, seperti aku ini lho…!”

Jelas itu bukan perilaku pemimpin kharismatik dunia. Beliau  sudah melampaui itu semua. Tidak aka nada niatan untuk mempermalukan pihak lain. Pilihan kata dan kalimatnya pasti kebaikan, sebagaimana nasihatnya, pilihlah kata-kata baik bagi sesama lebih banyak. Mosok ia mau menghianati nasihatnya sendiri?

Apa yang Paus Fransiskus lakukan, katakan, adalah oase bagi negeri ini yang dilimpahi dengan elit yang bergaya hidup mewah. Kehadirannya membawa kesejukan bahwa ada, masih ada pemimpin yang sederhana dan apa adanya.

Paus sudah selesai dengan dirinya, apa yang ia tampilkan adalah esensi bukan atribut yang tidak substansial. Apalagi jika dituding mau Kristenisasi, mau syiar sehingga kudu menghilangkan siaran adzan magrib, blas bukan perilaku beliau.

Sayang,  bahwa banyak komentar negative itu karena paradigma sendiri yang diterakan pada Paus Fransiskus. Fakta dan rekam jejaknya komplit bisa ditemukan di google, seperti apa. Tidak hanya kali ini tampil sederhana itu.  Sebagian lagi malu sehingga menyerang bahwa seolah Paus Fransiskus kudu sama dengan pemuka agama yang lain.

Salam Penuh Kasih

Susy Haryawan