FEATURED

Zulhas dan Cak Imin: Politikus Paling “Licin”

Pejabat di Semua Rezim

Jika ada iklan minuman ringan yang berjargon, “Apa pun makanannya, minumnya Teh Sosro,” maka bagi dua politikus ini jargonnya adalah: “Siapa pun Presidennya, mereka berdua menterinya.”

Sejak era reformasi, panggung politik memang memungkinkan siapa saja menjadi apa saja—tentu dalam konteks elit. Rakyat? Seringkali hanya menjadi pemandu sorak atau penggembira di pinggir lapangan.

Dua sosok ini, Zulkifli Hasan (Zulhas) dan Muhaimin Iskandar (Cak Imin), seolah memiliki tiket abadi dalam kekuasaan. Entah itu sebagai Menteri, pimpinan DPR, maupun MPR; nama mereka nyaris tak pernah absen dari lingkaran elite. Mereka mahir membaca arah angin. Tak jarang mereka mendukung rival, namun begitu kalah, mereka dengan gesit berbalik arah mendukung pemenang yang dulu mereka lawan.

Zulhas melakukan manuver ini selama dua periode kepemimpinan Jokowi, dan hasilnya? Kursi Menteri tetap di tangan. Begitu pula dengan Cak Imin. Meski sempat menjadi rival Prabowo-Gibran pada Pilpres lalu, kini ia justru duduk manis sebagai Menko. Sungguh luar biasa; mau jadi lawan atau kawan, ujung-ujungnya tetap menikmati kursi mewah jabatan.

Menumbangkan Para Raksasa

Kepiawaian mereka tidak hanya di level eksternal, tapi juga internal. Keduanya adalah ketua umum partai yang meraih posisinya dengan cara “menendang” sang pendiri. Cak Imin menyepak pamannya sendiri, almarhum Gus Dur, sementara Zulhas mendepak besannya, Amien Rais.

Padahal, kurang apa pengaruh Gus Dur dan Amien Rais? Keduanya adalah tokoh besar pra-reformasi yang sangat disegani. Namun, di tangan Zulhas dan Cak Imin, para raksasa itu berhasil dipinggirkan dengan segala konsekuensinya.

Jejak Kontroversi yang Tak Pernah Usai

Meski memimpin partai yang perolehan suaranya tergolong menengah, keduanya sangat piawai merangsek ke pusat kekuasaan. Sayangnya, belakangan ini mereka menjadi buah bibir bukan karena prestasi, melainkan karena kontroversi.

Zulhas, misalnya, menjadi sorotan saat berpose memanggul karung beras di tengah bencana banjir di Sumatera. Publik pun teringat rekam jejaknya bertahun-tahun lalu. Laporan media menyebutkan bahwa di era SBY, saat Zulhas menjabat Menteri Kehutanan, alih fungsi lahan hutan terjadi secara masif. Kini, saat banjir melanda, ia tampil memanggul beras lima kilogram—sebuah gestur yang terasa sangat timpang dan kontradiktif, apalagi ditambah beredarnya video dirinya menikmati cerutu di restoran mewah.

Di sisi lain, Cak Imin menuai kritik terkait pembangunan pondok pesantren Al-Qozini yang roboh. Proyek tersebut menggunakan dana APBN senilai Rp125 miliar—angka yang sangat besar jika dibandingkan alokasi dana penanganan banjir di Sumatera. Ironisnya, pondok ini bersifat privat, bukan fasilitas publik untuk menangani bencana besar.

Nama mereka pun kerap dikaitkan dengan berbagai kasus di KPK. Ingat kasus “kardus durian”? Nyatanya, semua tetap aman-aman saja. Jika rakyat kecil ingin menjadi perangkat desa atau buruh pabrik saja butuh SKCK dan Surat Keterangan Bebas Pidana, para elit ini tetap melenggang bebas meski namanya disebut berkali-kali dalam persidangan kasus korupsi.

Di negeri ini, residivis bahkan masih bisa jadi kepala daerah atau anggota dewan. Indonesia seolah menjadi “surga” bagi mereka yang bermasalah dengan hukum namun memiliki kuasa.

Negara Pancasila yang Terjebak Mafia

Sangat miris melihat realita kita: dikit-dikit isu penistaan agama mencuat, namun perilaku korup, tamak, dan tidak bertanggung jawab seolah dianggap lumrah. Kejahatan dikemas dengan rapi lewat sistem “saling sandera”. Mereka saling memegang kartu truf lawan, sehingga tak ada yang berani bertindak tegas.

Mungkinkah Indonesia Emas 2045 tercapai jika polanya terus seperti ini? Alih-alih mendekati kejayaan, tanda-tandanya justru semakin menjauh. Jangan-jangan, prediksi Prabowo dulu bahwa Indonesia akan bubar pada 2029 benar adanya? Jika demikian, kita hanya punya waktu tiga tahun lagi. Sungguh miris.

Salam Penuh Kasih

Susy Haryawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *