Ketika Guru Besar Kehilangan Nalar: Potret Negara Niretika
Integritas sebuah bangsa sering kali bercermin pada kejernihan berpikir para cendekianya. Namun, apa yang terjadi jika para pemegang gelar tertinggi akademik justru menjadi produsen narasi yang janggal dan ahistoris? Belakangan ini, publik disuguhi tontonan ironis di mana nalar sehat seolah tergusur oleh sentimen pribadi. Fenomena “tumbangnya” logika para guru besar ini bukan sekadar masalah salah ucap, melainkan sinyal bahaya bagi kesehatan demokrasi dan etika berbangsa kita.
Fenomena belakangan ini cukup memprihatinkan: maraknya pernyataan dari para guru besar dan profesor yang justru jauh dari nalar sehat. Sebagai pendidik dan kaum intelektual yang suaranya menjadi rujukan publik, seharusnya ada beban moral dan rasa malu yang dijunjung tinggi. Sayangnya, etika tersebut tampak abai, mungkin karena tergerus oleh rasa sakit hati atau ambisi mencari panggung popularitas.
Beberapa kasus berikut layak untuk kita ulik lebih dalam:
- Kasus Pertama: Seorang profesor mengklaim bahwa sosok yang hadir di sebuah forum di Singapura bukanlah Presiden Jokowi, melainkan hasil kloning. Pernyataan ini sangat ahistoris dan tidak logis. Hingga saat ini, ilmu pengetahuan belum pernah menghasilkan kloning manusia yang identik dan berfungsi penuh dalam kehidupan sosial.
- Kasus Kedua: Ada profesor yang menyatakan bahwa tanggal 25 Desember merupakan “Hari Mualaf Sedunia.” Klaim ini muncul tanpa dasar sejarah atau pengakuan internasional manapun. Mengingat latar belakang pembicara yang bukan ahli agama, sulit untuk memahami motifnya selain asumsi bahwa ini adalah narasi dari barisan sakit hati.
- Kasus Ketiga: Menanggapi video seorang anak yang menunjukkan adanya belatung pada jatah makan siang gratisnya, seorang profesor justru menuding si anak tidak bersyukur. Padahal, aksi si anak adalah bentuk kontrol publik yang jujur demi sanitasi yang lebih baik. Respons sang profesor yang berlebihan ini menunjukkan hilangnya empati terhadap hal-hal mendasar.

Pendidikan Versus Adab
Elite negeri ini tampak mulai mengabaikan adab. Mereka cenderung mengorbankan integritas demi memenuhi ego, rasa kecewa, atau kepentingan sesaat. Secara intelektual, mereka memiliki kemampuan di atas rata-rata, namun mengapa narasi yang dilontarkan justru terasa dangkal dan rendah?
Ternyata, pendidikan tinggi tidak menjamin seseorang menjadi lebih kritis, logis, dan bijaksana. Alih-alih mencerahkan, pernyataan-pernyataan mereka justru tampak seperti serangan balik untuk membalut luka pribadi—yang ironisnya, justru mempermalukan diri mereka sendiri. Apa yang diniatkan untuk menjatuhkan pihak lain malah menyingkapkan kekerdilan logika mereka di mata publik.
Ironi Iman dan Jabatan
Hampir semua tokoh ini adalah pribadi yang beragama, namun mengapa adabnya terasa begitu gersang? Nampaknya, agama bagi sebagian orang hanya sebatas ritual, simbol, dan jargon kesalehan semata. Pengamalannya jauh dari esensi cinta kasih dan kejujuran.
Pemujaan berlebih terhadap jabatan, pangkat, dan harta seringkali membuat manusia kehilangan rasa empati. Mereka merasa sah-alih menyakiti atau merendahkan orang lain tanpa pernah membayangkan jika posisi tersebut berbalik menimpa keluarga mereka sendiri. Kedewasaan seharusnya melahirkan pemahaman akan situasi orang lain, bukan justru menutup mata demi kepentingan diri.

Demokrasi Tanpa Tanggung Jawab
Atas nama demokrasi, mereka merasa berhak bicara apa saja tanpa kontrol. Padahal, esensi dari kebebasan bersuara adalah tanggung jawab dan penghargaan terhadap hak orang lain. Sangat disayangkan jika kaum terpelajar gagal memahami batasan mendasar ini.
Akankah bangsa ini terus terjebak dalam pola seperti ini? Orang pintar seharusnya menjadi obor kebaikan dan kebenaran, bukan justru menjadi pemandu kegaduhan yang digerakkan oleh ego, dendam akibat pemecatan, atau dahaga akan kekuasaan.
Salam Penuh Kasih
Susy Haryawan
