FEATURED

Postingan MBG Berbelatung: Untungnya Apa?

Logika Elit yang Buta Lapangan

Lagi dan lagi, program Makan Bergizi Gratis (MBG) melahirkan narasi kontraproduktif. Setelah kisruh mekanisme distribusi saat libur sekolah yang membingungkan, kini muncul respons yang sangat tidak berempati. Alih-alih mengevaluasi temuan belatung dalam menu MBG, seorang pejabat justru melontarkan pertanyaan retoris: “Apa untungnya mengunggah video tersebut?”

Ini bukan soal untung-rugi. Ini soal standar kelayakan pangan dan upaya perbaikan sistemik yang seharusnya menjadi prioritas, bukan malah defensif.

Paradigma Sempit dan Minim Solusi

Sejak awal, MBG memang sudah didera beragam persoalan. Anggaran yang semula dipatok Rp15.000 tiba-tiba menyusut menjadi Rp10.000. Dampaknya nyata: menu tidak keruan dan kasus keracunan massal terjadi di berbagai daerah. Bukannya menyelesaikan akar masalah, para pengambil kebijakan justru sibuk memproduksi narasi pembelaan diri yang tidak masuk akal.

Pernyataan-pernyataan seperti “usus anak belum terbiasa” atau “kasus keracunan hanya nol koma sekian persen” adalah bentuk pengabaian terhadap kesehatan publik. Bahkan, ada tudingan tak berdasar ilmiah yang menyalahkan petani atas penggunaan pupuk berlebih. Semua pernyataan ini dilempar ke publik tanpa riset mendalam, hanya sekadar pembenaran tanpa solusi mendasar.

Inkonsistensi dan Logika Irasional

Narasi baru kembali bergulir terkait pelaksanaan MBG saat masa liburan dan bulan Ramadan. Ada pejabat yang meminta siswa mengambil makanan ke sekolah, sementara yang lain mengusulkan pengiriman ke rumah. Bayangkan irasionalitas logistiknya: berapa banyak tenaga distribusi yang dibutuhkan hanya untuk menjangkau ribuan porsi per hari?

Rencana pemberian MBG di bulan Ramadan juga memicu kekhawatiran baru. Siswa yang tidak berpuasa direncanakan makan di tempat “tersembunyi”. Namun, masalah krusialnya adalah ketahanan pangan. Jika makanan yang didistribusikan pukul 12 siang saja sering kali sudah basi, bagaimana dengan porsi untuk berbuka puasa di pukul 17.30? Apakah masih layak konsumsi atau justru menyimpan risiko kesehatan?

Logika Keuntungan vs Hak Perbaikan

Siswa tidak pernah berpikir soal untung-rugi saat mengunggah fakta lapangan. Paradigma materialistik itu tampaknya justru melekat pada pihak Badan Gizi Nasional (BGN). Pertanyaan “apa untungnya?” sangatlah naif. Bagi siswa, unggahan itu adalah bentuk protes dan harapan akan perbaikan kualitas.

Belatung dalam makanan adalah isu serius yang bisa memicu keracunan hebat. Ini berbeda dengan ulat pada sayuran organik yang menandakan minimnya pestisida. Belatung adalah simbol sanitasi yang buruk. Pola pikir “keuntungan” cenderung merupakan refleksi dari para elit yang terbiasa berhitung profit, sehingga mereka menuding siswa memiliki motif yang sama.

Penyakit Antikritik dan Mentalitas Feodal

Alih-alih baper dan tersinggung, BGN seharusnya bersyukur atas kritik tersebut. Pembiaran selama ini justru membuat kualitas tidak kunjung membaik. Seolah-olah semua sudah benar dengan model kerja yang cenderung militeristik—komando dari atas dianggap mutlak benar dan bawahannya dilarang protes.

Lembaga sipil yang dikelola dengan gaya otoriter tidak akan pernah maju. Perbaikan seharusnya dilakukan terus-menerus melalui evaluasi terbuka, bukan dengan mengalihkan isu. Sikap antikritik ini menunjukkan mentalitas dogmatis dan feodal. Mengaku demokratis, namun praktiknya otoriter dan antikritik. Sungguh ironis bagi mereka yang menyandang deretan gelar akademik namun gagal berpikir secara ilmiah dan empati.

Salam Penuh Kasih

Susy Haryawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *