Bencana Nasional yang Terkendala Dana
Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat yang Menderita
Duka mendalam untuk saudara-saudara di Sumatera. Pejabat elit bangsa sudah berbondong-bondong datang, pun pernyataan yang kadang ngawur juga sudah menguar ke mana-mana. Satu yang menjadi tanya, mengapa sudah lebih dari 400 korban nyawa belum dinyatakan bencana nasional?
Uang habis. Miris, jika alasannya ini, karena memang sudah tersedot untuk MBG. Namun toh, semua pejabat dan elit negeri ini selalu mendengung-dengungkan bantuan untuk Palestina. Ada lahan berhektare-hektare untuk saudara Palestina, tentara akan dikirim ke sana. Berton-ton beras dikirim ke Palestina.
NKRI itu apa iya meliputi Palestina di nun jauh di sana? Toh yang deket begitu malah abai. Atau lebih pilu lagi, ketika uang bermilyar-milyar dipakai untuk mendanai pondok yang ambruk karena gagal konstruksi, kini yang banjir bandang akibat ulah manusia, baca elit politik dan negeri yang gegabah, Masyarakat harus berjuang sendiri.
Pilu, ketika semua habis, dan ada mini market yang tidak kena terjang banjir kemudian diambil untuk bertahan hidup, malah ditangkap dengan alasan penjarahan. Negeri Seberang dibantu dengan sukacita, saudara sendiri, sebangsa, masih satu Kawasan, sampai ditangkap dengan alasan menjarah.

Berduyun-duyun datang untuk mengungkapkan simpati dan empati. Ada menko yang memanggul beras dan ikut bersih-bersih, padahal bertahun lalu ia dicerca oleh seorang actor Hollywood berkenaan dengan pembukaan lahan yang gila-gilaan. Apakah ia sudah lupa? Pastina belumlah. Apalagi jika masih ada uang dibank akibat membubuhkan tanda tangan untuk eksekusi itu.
Pejabat lain mengatakan, bahwa bencananya tidak sebesar di media sosial. Kemudian ia meralat dan kaget keadaannya lebih besar. Kementerian yang berkaitan langsung dengan hutan ngeles, dengan mengatakan, bahwa kayu yang hanyut itu tumbang alamiah, bukan karena pembalakan liar. Fakta yang terlihat tidak demikian. Terlihat dengan jelas bekas potongan yang rapi karena gergaji.
Fakta yang Diingkari
Bangsa ini terlalu banyak berdusta. Fakta yang jelas-jelas anak kecil saja tahu, namun ngeles, demi sekadar nama baik. Kebiasaan membuang sampah di bawah karpet merah, membuang kotoran di pekarangan tetangga, biar terlihat bersih halamannya, sudah harus mulai dihilangkan.
Mengakui kegagalan itu ksatria, hal yang harus dibangun untuk menjadi gaya hidup. Tidak malahan berdusta demi kedok semata. Miris, mengaku negara religius, namun perilakunya jauh dari itu semua.
Salam Penuh Kasih
Susy Haryawan
