Raya dan Akutnya Bangsa ini
Raya dan Akutnya Bangsa ini
Di Tengah Kenaikan Tunjangan DPR-RI, Ada Anak Negeri Meregang Nyawa
Di tengah ingar-bingar hari kemerdekaan bangsa, bangganya anggota Dewan Perwakilan Rakyat pusat yang mendapatkan kenaikan tunjangan beras dan bensin, terdengar warta dari daerah ada anak meninggal karena cacingan. Parasit itu sudah keluar dari hidung, mulut, anus, dan lubang kemaluan anak malang ini. Konon orang tuanya pengidap TBC dan ODGJ. Tanpa BPJS lagi.
Relawan yang sempat hendak menyelamatkan anak ini menemui kendala rumitnya mengurus BPJS. Merasa dioper sana dan sini.
Lebih menyesakkan lagi, anak malang ini menderita sepanjang hidupnya yang sangat singkat. Keberadaan banyaknya parasit di dalam tubuhnya. Pusatnya ada di usus, namun sangat mungkin sudah sampai otak sehingga hilang kesadaran, masuk paru-paru, maka keluar lewat mulut dan hidung. Bisa dibayangkan betapa ngerinya selama hidupnya yang hanya seumur jagung itu.
Gambaran Bangsa
Negeri ini sudah 80 tahun, lebih panjang puluhan kali lipat dari usia Raya. Namun apa yang ada di dalam tubuhnya kog kelihatannya identik. Bagaimana rakyat diminta pajaknya, usaha dimintai royalti lagu, namun elitnya gaji besar, tunjangan banyak, pajak dibayarin negara. Uang tunjangan rumah lima puluh juta rupiah konon masih kurang. Padahal kinerja mereka sangat buruk.
Sikap buruk yang terkesan dan banyak dinilai tidak memiliki empati oleh anggota dewan, memperburuk keadaan. Parasit itu sudah ada di jantung bangsa ini.

Terdengar lagi salah seorang Wamen, kena OTT KPK. Kekayaannya mencapai milyaran di tengah kondisi ekonomi bangsa yang tidak baik-baik saja. Iklim usaha yang kena garong bagian utama birokrasi. Menurut pemberitaan, kasusnya adalah mengenai perizinan K3. Mengenai keselamatan kerja, namun diperjualbelikan?
Eh maling berdasi yang ditangkap malah kudu konsultasi dulu pada ketua parpolnya. Mana ada sih, maling mau ditangkap harus bicara ke bosnya? Makin somplak pola pikir elit negeri ini.
Hal yang sudah sangat akut dalam tubuh bangsa ini. Cacing atau parasit itu meruyak sampai ke mana-mana. Bangsa yang sehat dan tidak itu sudah tidak lagi ketahuan. Kebenaran dan kejahatan tidak lagi bisa dibedakan dengan mudah. Mana yang peduli atau hanya pernyataan sama sekali tidak diketahui, mana yang benar atau hanya sekadar omong.
Pemuka agama namun bejat, kata-kata suci, saleh, dan manis, namun berbuat jahat tanpa merasa bersalah. Tangan kanan memegang madu, tangan kiri memegang racun sebagaimana lagu zaman akhir 80an benar-benar terjadi. Berlomba-lomba mengemukakan kesalehan, namun sekaligus juga kejahatan yang hakiki.
Empati tidak ada lagi, selain proyek, aku dapat apa dengan menjadi sesuatu itu. Pengabdian, pelayanan, atau kasih itu sangat jauh dalam hidup bersama sebagai bangsa. Miris.
Kematian Adik Raya ini pukulan telak bagi bangsa dan negara. Jangan sampai bahwa negara juga sudah demikian akut dengan parasit yang berupa pejabat korup, malas, dan pemalak?
Salam Penuh Kasih
Susy Haryawan
