FEATURED

Dosa Ekologis di Sekeliling Kita: Belajar dari Bencana Sumatera

Banjir bandang yang melanda Sumatera adalah sebuah tragedi yang tak kunjung usai. Penderitaan masyarakat terus berlanjut, namun respons dari pemerintah dan elit terkesan hanya sebatas wacana. Fokus seringkali tidak menyentuh akar masalah.

Alih-alih menyalahkan rakyat kecil atau kebiasaan sepele seperti “ngopi dan gorengan,” kita harus jujur: bencana ini adalah akibat langsung dari ketamakan. Pengusaha dan elit kelas kakap yang mengubah hutan menjadi perkebunan sawit skala besar, merusak keseimbangan alam demi kekayaan. Penyebab utamanya bukanlah rakyat, melainkan eksploitasi kekayaan alam yang merusak lingkungan secara sistematis.

Mengamati Kerusakan di Sekitar Kita

Coba perhatikan lingkungan terdekat kita. Kita dikelilingi oleh beton yang semakin mendominasi. Pepohonan besar kian langka, sawah menyempit, berganti menjadi bangunan, bahkan yang tidak terpakai. Lahan produktif berubah fungsi menjadi kafe, dan ketika gagal, ia ditinggalkan sebagai tanah kering tak bermanfaat.

Modernitas dan pembangunan tentu bukan musuh, tetapi harus sinergi dengan alam, bukan merusaknya. Perencanaan tata ruang yang matang sangat mendesak, memastikan adanya kawasan hijau, daerah resapan air, dan pemisahan jelas antara kawasan industri, perumahan, dan ruang publik.

Perubahan Pola Pembangunan Vertikal: Institusi pendidikan, seperti kampus atau universitas, sudah saatnya mulai membangun ke atas, bukan melebar. Mahasiswa tingkat lanjut dapat belajar di lantai 20 tanpa masalah. Pembangunan vertikal ini adalah cara strategis untuk meminimalkan penggunaan lahan yang terlalu luas, kecuali untuk kebutuhan khusus seperti Taman Kanak-kanak atau Sekolah Dasar.

 Ancaman Lahan Parkir dan Transportasi

Masalah parkir kini menjadi isu ekologis dan sosial yang pelik. Lahan parkir di sekolah, kantor, bahkan tempat ibadah, kini bersaing dalam luasan dengan pusat perbelanjaan. Ini adalah masalah yang harus disadari sebagai bom waktu jangka panjang.

Macet sudah menjadi penyakit di mana-mana, tidak hanya Jakarta, namun juga di daerah-daerah. Kecenderungan masyarakat menggunakan kendaraan pribadi membuat kebutuhan lahan untuk jalan, garasi, dan parkiran terus membengkak. Sementara itu, angkutan umum hidup segan mati tak mau.

Pemerintah daerah harus segera memikirkan solusi seperti parkir bersama terpusat, alih-alih hanya berfokus pada kepentingan politik jangka pendek. Ini adalah warisan untuk generasi mendatang, bukan sekadar masa jabatan lima tahunan.


✅ Solusi Ekologis yang Mendasar

Peningkatan kendaraan pribadi sejak pandemi semakin memperparah keadaan, menciptakan bom waktu terkait bahan bakar, kebutuhan lahan, dan polusi. Pembatasan kepemilikan kendaraan pribadi sudah menjadi langkah mendesak.

Berikut adalah langkah-langkah solutif yang bisa kita mulai:

  1. Galakkan Angkutan Umum: Hidupkan kembali angkutan umum yang layak, nyaman, dan terintegrasi untuk mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi.
  2. Gerakan Menanam dan Ruang Terbuka Hijau: Manfaatkan lahan kosong untuk menanam, minimal untuk kesegaran lingkungan sekitar. Hindari pembetonan semua lahan.
  3. Utamakan Material Ramah Lingkungan: Gunakan paving block (bisa menyerap air) ketimbang beton untuk halaman, atau lebih baik lagi, biarkan menjadi ruang terbuka hijau, meski butuh perawatan ekstra.
  4. Kurangi Kendaraan Bermotor: Terapkan prinsip sederhana: jika masih terjangkau dengan berjalan kaki, tinggalkan kendaraan bermotor.
  5. Perangi Sampah Plastik: Got dan sungai penuh dengan sampah plastik akibat kemudahan dan harga murah.
    • Bawa Botol Minum Berulang: Biasakan membawa botol minuman reusable untuk mengurangi penggunaan gelas dan botol plastik sekali pakai.
    • Batasi Penggunaan Plastik Sekali Pakai: Mulai dari diri sendiri untuk mengurangi ketergantungan pada plastik.

Mengubah kebiasaan besar dimulai dari diri sendiri, dengan langkah sederhana dan pasti. Jangan takut jika awalnya berjalan sunyi.

Salam Penuh Kasih

Susy Haryawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *