Fate Chiasso Bekasi, Nasihat Paus Didengar Hajah Masriwati
Fate Chiasso Bekasi, Nasihat Paus Didengar Hajah Masriwati
Paus dalam Misa di GBK mengatakan, menyerukan Fate Chiasso, seruan untuk membuat kegaduhan, keriuhan, dan kesemarakan, kemeriahan, tentu dalam konteks kebaikan. Perilaku hidup bersama yang positif, seperti perbuatan baik, toleransi, tolong-menolong, dan anekan Tindakan positif lainnya.
Nasihat ini didengar seorang ibu, hajjah, pejabat di kota dekat GBK, yang menghentikan tetangganya yang sedang beribadah. Benar-benar membuat gaduh, riuh, dan sekarang viral. Paling sebentar lagi juga mewek dan minta maaf, salah paham, dan sejenisnya. Basi.
Mengapa ini terjadi lagi?
Satu, pembiaran. Oleh siapa? Penegak hukum, otoritas keagamaan yang ada, dan juga negara tidak pernah hadir.
Negara, tidak pernah menyatakan sikap dengan lugas, tegas, dan keras. Tentu tidak usah presiden atau menhan, atau menkopolhukam, sekelas wali kota atau bupati, gubernur cukup, karena skalanya memang sangat kecil. Kehadiran mereka akan membuat si korban juga terayomi, dan pelaku lain tidak ngelunjak karena merasa tidak ada yang menegor.
Lembaga agama, MUI, FKUB, KWI, PGI selalu diam. Jangan gunakan terminology agama untuk hukum negara. Pengampunan, maaf itu ada ranahnya sendiri. Contoh, penembak mendiang Paus Yohanes Paulus II, yang dibui, meskipun paus memaafkan dan mengampuni. Tentu mereka tidak juga harus dipenjara, namun ada sikap yang tegas dan keras.
Dua, permisif. Sikap yang demikian ini sering terjadi. Sangat toleran pada perilaku buruk. Tapi untuk mendukung yang baik, malah cenderung minim. Wong keadaan ini sudah terulang di mana-mana. Penyelesaiannya juga ngunu-ngunu wae.

Tiga, netizen dan orang waras hanya sendirian, diserang para pengasong ideolog ultrakanan, tanpa hadirnya pemerintah, penegak hukum, dan elit agama. Malah sering dipersalahkan, karena bertindak tidak sesuai harapan mereka.
Empat, ketidakberanian belajar mengenai kebiasaan, tradisi, dan ritual agama lain. Padahal tahu tidak juga automurtad. Hal yang menjengkelkan, wong negara Pancasila, namun malah seolah hanya Islam saja yang bebas dan seenaknya sendiri, lihat doa, sholat, pengajian, dan sejenisnya, bahkan di jalan raya atau tempat umum, dengan pengeras suara lagi.
Tentu saja hal ini bukan pembenar untuk ugal-ugalan. Namun berani enggak melihat ke dalam diri dan kelompoknya?
Salam Penuh Kasih
Susy Haryawan
