FEATURED

Gibran, AHY, dan Puan, Ada di Atas Panggung

Herodes Syndrome: Ketika Republik Menjadi Panggung Jagal Karakter

Indonesia tidak sedang baik-baik saja. Kita sedang menyaksikan sebuah parade absurd di mana demokrasi hanya menjadi topeng bagi feodalisme gaya baru. Di balik stabilitas koalisi yang tampak “adem ayem”, sedang terjadi pembusukan dari dalam. Para pemegang kuasa tidak lagi sibuk melayani rakyat, melainkan sibuk mengasah pisau untuk menyembelih potensi siapa pun yang dianggap ancaman. Inilah Herodes Syndrome.

Psikosomatis Kekuasaan: Ketakutan yang Patologis

Herodes Syndrome bukan sekadar dinamika politik; ini adalah penyakit mental para penguasa yang paranoid. Seperti Raja Herodes dalam narasi kuno yang memerintahkan pembantaian bayi laki-laki demi mengamankan takhtanya, elit kita hari ini sedang melakukan hal serupa: infantisida politik.

Mereka ketakutan setengah mati pada figur baru. Akibatnya, energi bangsa habis bukan untuk membangun, tapi untuk mematikan karier orang sebelum mereka sempat berkembang.

Kabinet Superjumbo dan Oposisi yang Mandul

Pasca-Pilpres, Indonesia berubah menjadi “kandang besar” di mana hampir semua serigala politik dikumpulkan dalam satu barisan. Koalisi gemuk dan kabinet superjumbo adalah bukti nyata dari politik bagi-bagi jatah.

Oposisi? Mati suri. Mereka lebih memilih mencari aman terhadap penguasa demi posisi daripada menjadi penyambung lidah rakyat. Ketika semua pihak sudah “kenyang” di meja makan kekuasaan, siapa yang tersisa untuk menjaga kedaulatan rakyat?

Pembunuhan Karakter: Senjata Para Pengecut

Dahulu, lawan politik dihilangkan secara fisik. Sekarang, metodenya lebih licin namun tetap biadab: pembunuhan karakter.

  • Isu Ijazah Palsu: Drama basi yang terus digoreng untuk menyandera nalar publik hingga 2035.
  • Target Pemakzulan 2026: Seruan-seruan absurd untuk menjatuhkan Gibran yang disuarakan Rismon Sianipar bahkan sebelum kursinya hangat, hanya karena ketakutan yang melompat jauh ke Pilpres 2029.

Ini adalah perilaku patologis. Mengapa harus panik dengan 2029 ketika nasib manusia di tahun 2026 saja belum tentu sampai? Kekuasaan telah membutakan akal sehat. Mereka mencoba mendahului takdir dengan cara-cara kotor.

Pemerintahan Autopilot dan Matinya Hati Nurani

Saat ini, jabatan hanyalah pajangan. Kita terjebak dalam pemerintahan autopilot. Pemimpinnya ada, tapi dampaknya nol. Rakyat berjuang sendiri, sementara elit sibuk bersolek di depan cermin kekuasaan.

Rasa malu sudah punah. Fokus mereka bukan lagi prestasi, melainkan bagaimana cara menjatuhkan lawan agar terlihat sebagai pahlawan. Ketika akal budi mati, yang tersisa hanyalah insting binatang: siapa yang kuat, dia yang memakan yang lemah. Homo homini lupus dalam wujud berbaju batik dan bersafari.

Republik Rasa Kerajaan: Kembali ke Zaman Kegelapan

Tragis. Negara yang diproklamirkan sebagai Republik ini perlahan membusuk menjadi Monarki. Fenomena “Putra Mahkota” bukan lagi rahasia. Anak, menantu, dan keponakan dipersiapkan sebagai ahli waris takhta seolah-olah kursi kekuasaan adalah tanah warisan kakek mereka.

Catatan Tajam: Tidak ada yang salah dengan anak pejabat berpolitik, tapi menjadi “salah besar” ketika kapasitas nol besar dipaksakan naik hanya bermodalkan darah biru dan nepotisme yang menjijikkan.

Simpulan: Kembali ke Awal atau Runtuh

Indonesia sedang berada di persimpangan jalan. Jika Herodes Syndrome ini terus dibiarkan menjangkiti otak para elit, maka demokrasi kita hanyalah sebuah lelucon gelap. Kita tidak butuh dinasti yang haus kendali; kita butuh pemimpin yang punya nyali untuk melayani.

Jangan biarkan kedaulatan rakyat menjadi jargon usang di bawah bayang-bayang feodalisme. Saatnya mencabut akar Herodes dari tanah Republik sebelum ia mematikan seluruh tunas harapan bangsa.

Salam Penuh Kasih

Susy Haryawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *