Fadli Zon, Oposan, Komunis, dan Teror Ketakutan

Biasanya,  September, sebelum kelompok yang onoh diciduk dan dibui, narasi PKI dan komunis begitu kencang. Tahun ini bulan kesembilan, masuk dua pertiga baru mulai satu dua terdengar. Naga-naganya sih ini proposal untuk menarik dana bohir.

Alumni 212 sudah menyerukan menonton film yang itu lagi-itu lagi. Susah percaya akan dapat respons yang sepadan. Sama dengan demo Hari Buruh juga sepi. Sudah tidak laku, dana seret, si duet Rizieq dan Munarman sudah terbui.

Gatot Nurmantyo yang sudah gatal memprovokasi mahasiswa. Kan mahasiswa kini lagi tersebar di rumah masing-masing. Bagaimana mereka mau dikumpulkan? Ada kekuatan finansial untuk berlakukan hal demikian? Kebanyakan oposan pelit yang masih ngarep berkuasa.

Fadli Zon menyoal soal kapal China di Laut Natuna Utara. Oposan setengah hati, malah menghajar Prabowo sebagai Menhan. Atau ia memang ada pada kehendak yang berbeda. Lebih taat pada Cendana dari pada bosnya di partai?

Ada penembakan pada seorang tokoh  agama, langsung dikaitkan dengan komunis. Anak Orba  banget sih dia, wajar menggunakan terminologi Orba.

komunis
Fadli Zon

Apa yang dilakukan oposan ini adalah politik pesimis, ketakutan, dan kecemasan. Mereka membangun sikap kerdil pada masyarakat, yang sejatinya adalah diri  mereka sendiri. Hal itu dilakukan untuk mendapatkan legitimasi.

Pesimis. Ini sih soal bahwa pemerintahan sedang mengajak bangsa hidup dengan penuh harapan, optimis, dan melangkah dengan gagah menuju pada peradaban yang lebih baik. Kebanggaan sebagai sebuah negeri yang kaya dan besar.

Ketakutan. Mereka ini sejatinya ketakutan kalau belang, bobrok, perilaku maling mereka ketahuan. Sudah ketahuan hanya saja mereka masih mau mempertahankan hasil rampokan mereka demi anak cucu mereka.

Apa iya rela anak cucunya disuapin dan diberi makan dengan uang malingan? Aneh dan lucu, kog mereka tidak mikir, meracuni keturunannya dengan hal yang tidak baik. Tamak, rakus, dan nggangsang. Semua dimakan.

Kecemasan mereka itu, kalau pemerintah ini bisa membuat massa sadar, habislah mereka. Ketamakan mereka benar-benar disadari, dan mereka ketahuan rakusnya. Yakin mereka tidak malu, namun mereka tidak akan bisa melakukannya lagi. Merampok dengan seolah-olah baik,  perhatian, dan berbudi.

Sekali rampok ya rampok. Ketamakan tidak akan pernah cukup. Serasa minum air laut yang tidak pernah menyebabkan haus itu hilang.

Harapan perlu tetap dilambungkan, bahwa negara ini tetap melaju di tengah badai kerakusan sebagian elit. Tetap ke depan dan menyongsong negara maju itu nyata.

Salam Penuh Kasih

Susy Haryawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *