Kala Bupati Dibandingkan dengan Seekor Anjing K-9
Bupati dan Reno
Miris, di Tengah bencana banjir yang sangat besar, kepala daerahnya pergi ibadah di tanah suci, umroh. Sontak menjadi polemik di media sosial. Sebagian besar menyayangkan Keputusan si kepala daerah yang seolah meninggalkan rakyatnya untuk kepentingan pribadi. Hal ini, telah diberi hukuman berat oleh partainya.
Air bah datang meratakan apa saja yang dilalui, bupati ini menangis sambil menandatangani, bahwa ia sebagai kepala daerah tidak sanggup untuk menanggung semua keadaan itu, tentu saja dalam konteks finansial, keuangan daerah tidak cukup untuk mengatasi bencana besar itu.
Empati dan Reno K-9
Publik, terutama warganet langsung membandingkan dengan reno nama seekor anjing K-9 yang gugur karena kelelahan. Seekor anjing, yang di sini sering dianggap jelek, kotor, dan buruk, padahal tidak seperti itu faktanya. Karena ada sebagian pihak yang memang memandang anjing dengan minir. Padahal itu hanya sebagian pihak, bukan keseluruhan kepercayaan. Ya sudahlah.

Komparasi yang sangat tega, kejam, dan ngeri sebenarnya, seorang bupati yang dianggap kurang simpatik, pergi di tengah-tengah bencana yang dialami warganya. Seperti seorang bapak yang malah piknik sekolah ke Bali padahal rumahnya kebakaran. Ilustrasi ini jauh lebih mudah untuk dipahami dan dimengerti. Pada sisi lain ada anjing yang mati karena kecapekan membantu mencari korban yang tertimbun puing dan lumpur.
Anjing yang harusnya membantu, namun malah sampai mati karena kelelahan, eh pada pihak lain, ada yang mementingkan ibadah, padahal bisa ditunda. Lain lagi malah menjadikan itu sebagai kontek, pejabat tinggi hadir dengan kemewahan yang memang melekat pada jabatannya.
Lain lagi koordinasi namun dengan setingan bak sinetron. Petinggi lain, mau menggambarkan diri bak tokoh besar agama masa lalu dengan memanggul karung beras. Sayang terlihat belepotan skenarionya, karena para anak buah, ajudan, pengawal tidak membawa apa-apa. Lha ngapain karung dipanggul jika hanya satu.
Ada artis, eh anggota dewan, yang salah kostum, mengenakan kek rompi antipeluru. Pejabat lain, orang lingkaran utama petinggi negeri ditegur dengan keras oleh warganet karena menayangkan diri dan pihak yang dilayani dengan kemewahan kelas utama, dalam keberangkatan menuju dan selama di tempat bencana. Miris.
Abai akan empati dan hati di Tengah bencana. Serendah itulah kualitas pemimpin negeri ini. Riuh rendah pada hal yang jauh dari kebaikan hakiki. Mereka masih begitu kuat mencari afirmasi diri. Pengakuan diri yang masih saja dicari-cari. Padahal semua sudah ada di dalam dirinya. Kekuasaan, ketenaran, uang yang berlimpah.
Pastinya, mereka ini, para pejabat, pesohor ini paham, dirinya memang tidak akan jadi apa-apa, bukan siapa-siapa, maka mereka masih mencari lobang besar itu. Hal ini perlu yang namanya kesadaran. Refleksi yang terus menerus. Namun apakah mereka mau dan ada waktu untuk itu.
Salam Penuh Kasih
Susy Haryawan
