FEATURED

Bahasa dan Komunikasi Jajaran Prabowo Ngaco

Bahasa dan Komunikasi Jajaran Prabowo Ngaco

Prabowo dan jajarannya benar-benar memprihatinkan dalam menyikapi narasi dan fenemona. Asal bunyi, tidak berfikir dampaknya. Usai membuat Keputusan konyol dalam hal gas melon, pengangkatan CPNS dan CP3K, kemudian Presiden Prabowo menjadi superhero, akibatnya sudah terjadi. Wajar investor ragu dan kemudian kabur. IHSG nyungsep, rupiah terhadap dollar terkapar. Bagaimana tidak, ketika elitnya saja meragukan.

Kiriman kepala babi

Tempo, media yang sering miring dan nyaring dikirimi potongan kepala babi. Respon orang istana sangat kurang ajar, dimasak saja. Sama sekali tidak memperlihatkan kapasitas pejabat publik, harusnya netral bukan partisan. Memperlihatkan bagaimana dukungannya pada si pengirim, dan tidak pada jurnalis dan media. Jauh lebih bijak, jika mengatakan, sekadar basa-basi, tidak elok zaman demokrasi oq begitu.  Tidak usah mengutuk, dari pada kena gebug koalisi sebarisan yang keknya cenderung barbar.

THR adalah tradisi, jangan dijadikan polemik

Sama sekali tidak tahu apa yang terjadi di lapangan dan keluhan pelaku usaha. Pejabat yang hanya nangkring di balik meja. Khas begitu. Masyarakat, terutama pelaku usaha itu jengkel atas ulah ormas yang malak ke pengusaha-pengusaha untuk minta THR. Lha apa yang mereka lakukan sehingga merasa layak mendapatkan THR?

Heran, sekelas wakil Menteri, apa yang dibaca, dilihat di media baik  media social atau arus utama? Keadaan kek itu saja tidak tahu. Ormas-ormas ini sekian lama kelaparan, dan kini bangkit lagi, bukannya menindak, malah memberikan angin segar.

THR-nya memang tradisi, perusahaan juga dengan suka rela memberikan hadiah itu. Namun, yang dipersoalkan itu adalah ormas yang malak. Logikanya jangan kebalik. Lha dalah wamen oq membaca      keadaaan saja tidak paham. Apalagi kerja lebih sulit, apa bisa?

Ekonomi RI lebih baik  dari Timor Leste

Falsafah Jawa mengatakan, bahwa menunduk itu bisa membantu untuk bersyukur. Namun tidak dalam konteks membandingkan keadaan negeri ini dengan Timor Leste. Mengapa tidak membandingkan dengan Malaysia atau Singapura sekalian. Itu memicu dan memacu semangat. Jika pembandingkan adalah negara baru kemarin sore yang lepas dari RI, ya sama saja tidak perlu kerja keras. Jauh di atas mereka. Sudah selayaknya pembandingnya adalah Singapura, jangan puas hanya seperti ini.

Timnas Sepak bola kalahan karena kurang gizi.

Sami mawon komentarnya ini. Kalah karena diisi mafia, lihat tidak sekian lamanya sepak bola itu yang kek itu. Pas ada pelatih bagus, permainan bisa dilihat dan dinikmati, pola permainan jelas, hasil bagus, pelatihnya diganti. Mulai lagi, bakat-bakat pemainnya banyak yang bagus, tapi ilang. Sama sekali tidak berkaitan dengan kurang gizi.

Lagi-lagi terlihat pejabatnya tidak banyak mengerti apa yang dikomentari. Lebih baik sudahlah, diam saja, lebih baik.   Apalagi kalua sama sekali gak ngerti, mau kelihatan keren malah memalukan.

Lombok Mahal, Tidak Usah Makan Pedas-pedas

Mau ngelucu, kalah sama Cak Lontong, gak usah. Jadilah presiden dan bagaimana bisa menjaga stabilitas harga. Sesederhana itu.

Lha tapi ya salah juga, eksploitasi berlebihan jika menuntut mereka cerdas. Kan memang segitu kemampuannya. Tidak bisa lebih lagi. Ya Nasib saja memiliki bangsa dan negara sebesar ini dikelola dengan ilmu ndagel ala Srimulat.    Amatiran yang dikemas dengan gaya besar.

#IndonesiaGelap

#IndonesiaGulita

Salam Penuh Kasih

Susy Haryawan

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *