FEATURED

Negara Kaya SDA, Tidak Sejahtera

Negara Kaya SDA, Tidak Sejahtera

Nauru, sebuah negara kaya raya akan sumber daya alam, pada eranya. Kini menjadi negara gagal, karena memang tidak mampu mengelola hasil buminya. Mereka mengeksplorasi berlebihan dalam waktu sesaat akan phosphate  yang mereka miliki. Gaya hidup masyarakatnya kala kaya, tidak pernah ingat untuk bekerja dan memiliki daya juang.

Pernah dalam masa jaya pada puncaknya, mereka menggunakan uang untuk tisu toilet. Saking kayanya. Kini, ketika hasil bumi itu habis, hanya tinggal kubangan-kubangan besar yang tidak bisa diapa-apakan. Jatuh menjadi masyarakat dan negara miskin.

Masyarakatnya dimanja oleh subsidi dan dana melimpah dari negara. Tidak memiliki skil dan mentalitas pekerja. Berubah total ketika sumber daya alamnya habis, punah juga hidup mereka.

Indonesia

Kekayaan Indonesia akan sumber daya alam melimpah ruah. Toh tidak   memberikan kesejahteraan bagi khalayak banyak. Malah ada laporan yang menyebutkan kemiskinan banga ini sangat  besar. Distribusi kekayaan hanya milik elit dan beberapa pihak saja.

Tambang hanya dikelola oleh itu-itu saja. Padahal jika seturut cita-cita berbangsa sebagaimana termaktub dalam UUD ’45, bahwa itu semua, baca hasil tambang untuk kesejahteraan seluruh tumpah darah Indonesia. Faktanya kan tidak demikian.

Malah cenderung memberikan subsidi pada orang yang lebih kaya. Lihat saja, bagaimana bisa mengakses sumber ekonomi kelas atas hanya sedikit. Perusahan ini dan itu pemiliknya hanya itu lagi-itu lagi.

Belajar dari UEA dan Saudi Arabia

Mereka, kedua negara ini paham bahwa kekayaan alam, dalam konteks minyak bumi terbatas. Kini, mereka mengembangkan sumber ekonomi lain. Membangun pusat-pusat industri pariwisata, sampai kasino segala. Membuka diri untuk menyediakan pariwisata modern, termasuk mereka mau menyediakan minuman keras. Idenya adalah memberikan layanan terbaik untuk konsumen.

Menawarkan pusat hiburan kelas atas. Wisatawan yang datang itu untuk berlibur, menyegarkan jiwa, padahal mereka memiliki cuaca ekstrem, siang panas malam dingin super. Bayangkan negeri ini, tidak ada cuaca seekstrem itu, jauh lebih menjanjikan, mengapa tidak mampu membangun seperti mereka?

Kekayaan Budaya dan Kuliner Indonesia

Soto saja ada beraneka macam. Madura, Bandung, Kudus, Lamongan, sampai Makasar. Sate pun demikian, masing-masing tempat memberikan sensasi khas yang berbeda-beda. Minuman, baik yang biasa hingga yang luar biasa. Kita memiliki buah segar yang berlimpah, bisa menjadi wine, mengapa harus woow dengan vodka atau whisky, kita pun memiliki cap tikus, ciu,  cong yang, sake arak dari berbagai daerah. Kekayaan yang seolah malah menjadi bumerang, salah-salah masuk bui.

Kemasan lebih modern, menjaga stabilitas produk, kebersihan produksi, dan yang utama, jauhkan dari preman berkedok aturan. Negara hadir, bukan sekadar ambil dan minta pajak atau memperumit ini itunya. Masalah itu ada di sini. Mulai dari lingkungan, birokrasi, hingga penegak hukum, membuat habitat industri tidak bisa berjalan dengan baik.

Lingkungan usaha yang tidak pernah didukung untuk menjadi sebuah hasil yang menyejahterakan. Malah seolah menjadi jerat kemiskinan baru. Apalagi jika berkaitan dengan dogma. Lihat saja Arab Saudi sebagai pusat agama, lebih terbuka dari pada Indonesia. Kan aneh dan lucu, milik sendiri malah dibuang.

Pun tempat atau destinasi wisata, mau alam atau budaya. Tidak kurang-kurang, malah sering mau diturunkan dengan kaca mata agama tertentu. Ini sumber yang membuat tidak maju dan sejahtera.  Bisa jadi banyak rakyat ini jadi tikus mati di lumbung padi.

Gunung sampai laut bisa menjadi tujuan pariwisata yang luar biasa. Tidak perlu label wisata halal juga, ini negara Pancasila. Lha memang kasino dan kafe Arab Saudi itu halal? Sesat pikir yang dianggap pikiran luar biasa kan repot. Tari-tarian yang tidak kalah banyaknya. Ada reog Ponorogo yang legendaris, namun mana ada seniman reog yang dikenal nasional, apalagi global. Wayang, ketoprak, ludruk, dan bahkan mulai jarang terdengar ada pertunjukan seni keren itu.

Buah-buahan, atau rempah-rempah yang membuat Portugal, Spanyol, dan akhirnya Belanda datang jauh-jauh dari Eropa itu kini malah seolah tidak ada harganya. Padahal bisa menjadi sumber devisa yang sama mahal dan pentingnya.

Apa iya akan menyusut bukan malah berkembang sih bangsa ini?  Kog seolah bos-bos di Senayan atau di istana itu pikirannya gak kek itu. Cenderung bahwa mereka hanya berfikir untuk diri, kelompok, atau keluarganya lebih dulu.

Salam Penuh Kasih

Susy Haryawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *