Cawe-cawe Jokowi, Mendukung Prabowo, Mengamankan dan Menghajar Ganjar

Cawe-cawe Jokowi, Mendukung Prabowo, Mengamankan dan Menghajar Ganjar

Menarik apa yang terjadi dengan pilpres kali ini. Bagaimana Jokowi dituduh melanggar konstitusi, kacang lupa kulit, ugal-ugalan, gila kuasa, dan sejenisnya. Dulu para pemuja dan pendukungnya kini banyak yang menghujatnya. Tidak sedikit yang berubah menjadi pembenci kelas kakap.

Tudingan itu memang berdasar fakta, perilaku, dan pernyataan  politik Jokowi selama ini. Namun bagaimana dan apa yang Presiden Jokowi lakukan itu kog berbeda dengan kurang lebih belasan tahun dengan menjadi walikota, gubernur, dan presiden hampir dua periode.

Jika mau tamak atau haus kekuasaan, santai saja menjadi presiden seperti yang sudah-sudah, menggeber subsidi, disukai rakyat, pihak asing pun suka cita karena gampang mengadalin izin tambang. Lha mengapa mempersulit diri, wong rakyat juga lebih “suka” dengan model pemimpin sebelumnya. Turun dan mau mengganti dengan anaknya, mengambil alih partai dan juga mendudukannya menjadi ketua umum partai, tidak ada yang sewot.

Soeharto vs Jokowi
Soeharto vs Jokowi

Pun penguasa negara yang lebih dari tiga dekade tidak separah ini hujatannya. Apalagi pas berkuasa, siapa berani mengatakan seperti yang Jokowi alami. Tidak ada sama sekali. Turun ditumbangkan pun masih banyak pemujanya. Rekam jejak kepemimpinan negeri ini tidak bagus-bagus amat, jika diperbandingkan dengan Jokowi, toh tidak menerima sebagaimana ayah Gibran ini alami.

Kira-kira mengapa demikian?

Susah memang menemukan hal yang valid mengenai perubahan sikap yang begitu radikal, berbalik arah bahkan. Namun toh dengan beberapa rekam jejak bisa diulik bagaimana dan mengapa bisa demikian.

Poin utamanya adalah, nasionalis yang harus tetap memegang tampuk kepemimpinan. Padahal ada unsur ultrakanan yang maju dengan berkolaborasi bersama nasionalis, religius yang biasanya Pancasilais.

Apabila hanya dua pasang kandidat dalam pilpres sangat mungkin kelompok ultrakanan yang bisa menang dengan lebih gampang. Hal yang pelik karena pihak nasionalis tidak cukup memiliki kemampuan dan kapabilitas yang sepadan untuk bisa bersaing dengan gigih.

Tidak hanya soal calon, namun juga pihak asing yang sudah geram karena hampir sepuluh tahun ini menderita, padahal sudah puluhan tahun pesta pora. Hal ini yang perlu juga dicermati. Permainan besar yang kadang dilupakan.

Mengapa menghajar Ganjar? Menciptakan militansi partai banteng untuk tidak mau kalah dan menyerah dengan diam saja dan ditelikung kelompok ultrakanan yang bersemayam di salah satu kubu. Pun membuat jiwa nasionalisme makin kuat untuk tidak mau kalah dengan pihak lain yang senada.

Membuat dua putaran dengan sesama nasionalis yang lolos, bukan malah saling meniadakan. Ini penting. Salah langkah, malah bubar. Poin pokoknya adalah, menyingkirkan pihak yang tidak nasionalis dengan cara yang halus, bukan kasar ala KPK atau Kejagung, hal yang terlalu kasar dan vulgar. Lagi-lagi karena adanya dukungan pihak lain yang maunya Indonesia lemah. Ini asumsi berdasar bukan  hanya ngasal atau othak athik gathuk.

Lihat saja bagaimana Barat begitu gencar melakukan provokasi-provokasi. Sepanjang periode Jokowi menjadi presiden tidak pernah berkurang.

Salam Penuh Kasih

Susy Haryawan