Negara Reaktif, Elit Baper
Bencana Sumatera Memperlihatkan Mutu itu
Banjir bandang dan tanah longsor ini memperlihatkan cara bernegara dan para pemimpin yang gagap dalam menghadapi masalah. Mulai yang paling atas hingga daerah sama saja. Padahal negara ini memang potensial dengan aneka bencana. Paling tidak ada upaya dan cara untuk meminimalisasi korban baik jiwa ataupun benda.
Reaktif
Terlihat dari apa yang mereka katakan, kemudian di ralat. Padahal sangat sederhana, turun lapangan, atau buka mata buka telinga sudah cukup. Ini era digital, tapi mental masih manual. Tidak hanya satu, namun hampir semua begitu. Contoh dua yang sangat fatal, BNPB, mengatakan bahwa bencana itu hanya besar dan heboh di medsos. Kemudian minta maaf setelah sampai di lapangan.
Apa sih susahnya menggunakan kata atau kalimat, yang lebih sejuk, kalau asertif tidak kenal. Bencana ini tidak kita duga sama sekali, tapi yakinlah, kami akan bekerja keras, professional, dan tidak kenal Lelah. Pasti mendapatkan dukungan dan menyemangati korban dan para pekerja lapangan.
Satu lagi, Menteri Bahlil, mengatakan kepada Prabowo, Listrik sudah menyala seluruhnya. Public memberikan bukti tidak demikian. Buru-buru menyatakan, bahwa ia salah. Padahal tidak usah membual kan bisa. Data dan fakta itu gampang diperoleh, tapi mau atau tidak.

Tahun depan beli 200 helikopter untuk mengatasi distribusi bantuan dalam kondisi darurat. Lha emang ada uangnya? Kek anak kecil, yang harus, pokoknya, dan kudu. Tanpa mau tahu realitas.
Sensian
Anggota DPR sensi dengan bantuan yang diberikan oleh warga. Hanya 10 milyar saja gembar-gembor, pemerintah sudah trilyunan. Lah emang tugas pemerintah, napa kudu nyatakan? Malah aneh, karena satu partai, malah memuji pemerintah, padahal mengawasi, apakah sudah bekerja dengan benar dan tepat atau belum. Faktanya, banyak kengacoan dalam bencana ini.
Presidennya juga omong, hanya bisa kritik, mana bisa bangun jembatan. Lha itu emang tugas elu, atau ia lupa sudah jadi presiden. Dia pikir masih kampanye kah? Ndagel.
Menyoal masyarakat yang berinisiatif untuk menyumbang. Ada-ada saja komentar dan halangan yang membuat sumbangan tidak sampai tujuan. Namanya bantuan, kan tidak juga harus negara, asal jelas penggunaan, siapa yang dibantu, dan untuk apa. Toh banyak open donasi yang tidak jelas larinya.
Menteri dan jajaran yang terkait, harusnya berterima kasih dibantu, bukannya malah menganggap itu sebagai kompetitor. Aneh dan ajaibnya negeri ini, pejabat takut dengan kinerja rakyatnya. Ya karena memang tidak bisa bekerja.
Salam Penuh Kasih
Susy Haryawan
