FEATURED

Perbandingan Gaya Kepemimpinan: Jokowi (Detail) vs. Prabowo (Global)

Peristiwa bencana alam di Sumatera belakangan ini memberikan gambaran yang jelas mengenai perbedaan gaya kepemimpinan antara Presiden sebelumnya, Joko Widodo, dan Presiden saat ini, Prabowo Subianto.

Jokowi dikenal dengan ciri khas blusukan dan penguasaan detail kecil di lapangan, yang membantunya dalam menyelesaikan masalah dengan cepat dan tepat. Sebaliknya, Prabowo cenderung mengambil pendekatan yang lebih global, makro, dan sangat mempercayai laporan dari para pembantunya.

Pendekatan kepemimpinan Prabowo ini identik dengan era kepemimpinan sebelumnya, seperti Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan bahkan Soeharto. Contohnya terlihat dalam proyek-proyek yang cenderung bombastis, seperti program penanaman sejuta pohon yang pernah digaungkan di masa SBY dan Soeharto. Berbeda dengan era Jokowi yang lebih fokus pada bukti nyata dan implementasi di lapangan, bukan sekadar angka yang megah.

Isu Tata Kelola dan Lemahnya Evaluasi

Sistem tata kelola dan evaluasi menjadi sorotan. Kita sering melihat fenomena pembangunan fasilitas publik yang megah, bahkan mewah (seperti terminal atau gedung PMI), yang terkesan hanya sebagai aksesori. Pembangunan bagus tentu meningkatkan harkat daerah, namun ironisnya, di tempat lain, perabot publik jebol dan tidak ada dana untuk perbaikan atau penggantian. Ini menunjukkan adanya alokasi anggaran yang tidak tepat dan inefisiensi.

Kondisi ini diperparah dengan adanya ‘permainan’ politik, di mana renovasi, bahkan pembangunan ulang, dilakukan bukan berdasarkan kebutuhan, melainkan karena pertimbangan politis: dapil, tim sukses, atau kantong kemenangan. Bangunan yang belum rusak pun sudah direnovasi.

Prabowo, meski berlatar belakang militer dan orang lapangan, terlihat akan keteteran dalam menguasai detail operasional di tingkat bawah. Lingkaran kabinet dan utama yang kental dengan pola “Asal Bapak Senang” (ABS) membuat respons terlihat cepat, tetapi sering kali luput atau keliru.

Respons Cepat, Hasil Keliru

Penanganan masalah dengan responsif yang terburu-buru sering kali berujung pada kekeliruan. Dalam kabinet, hal ini diperburuk dengan banyaknya orang politik yang kurang profesional, di mana keputusan didasarkan pada upaya menyenangkan pimpinan demi mempertahankan posisi.

Peristiwa di Sumatera mencerminkan hal ini. Penanganannya terkesan lamban, meskipun Prabowo telah melakukan kunjungan hingga tiga kali. Kunjungan tersebut seolah hanya sekadar hadir tanpa visi atau rencana aksi yang jelas. Pernyataan Prabowo yang hanya meminta “jangan menebang pohon sembarangan” terasa sangat dangkal, padahal masalah intinya adalah pembabatan hutan jutaan hektare. Ini ibaratnya hanya memperingatkan “jangan main api” saat kampung sudah telanjur terbakar.

Prabowo tampak kurang memiliki visi yang konkret tentang apa yang ingin dicapai selama menjabat sebagai Presiden dan Kepala Pemerintahan, yang perannya sangat krusial. Kepemimpinannya saat ini lebih cenderung berfokus pada upaya menyenangkan pendukung, dan abai terhadap kompleksitas kenyataan di tengah masyarakat, sesuatu yang justru sangat dikuasai oleh pemimpin sebelumnya karena pemahamannya yang detail.

Salam Penuh Kasih

Susy Haryawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *