FEATURED

Ridwan Kamil: Anak Sekolah Wajib Mengaji, Bagaimana Ketertinggalan Peringkat PISA?

Ridwan Kamil: Anak Sekolah Wajib Mengaji, Bagaimana Ketertinggalan Peringkat PISA?

Netizen masih galau dengan keberadaan IQ rata-rata orang Indonesia yang masih di kisaran 80-an. Belum lagi peringkat PISA untuk numerasi dan literasi. Masih masuk kawanan kelas bawah. Jika masih belum percaya, cari saja di media sosial, bagaimana pengetahuan siswa-siswi kita maaf masih cukup rendah.

Tidak ada yang salah dengan mengaji. Hal bagus malah. Namun sangat tidak relevan di tengah pendidikan yang sedang mengalami trend negatif. Waktu belajar jauh terpotong demi kegiatan yang sejatinya bersifat privat, pribadi, dan personal.

Gagasan dan kampanye untuk pemimpin sipil lho ini, bukan pilihan takmir masjid atau ketua ormas keagamaan. Lha bagaimana pemerintah daerah mau memimpin, mengelola, dan mengatur daerahnya jika sangat sektarian seperti ini?

Mengapa gagasan sangat primordialisme masih saja lekat dalam pilkada dan pemilu di Indonesia?

Jelas itu yang paling menjual, murah, dan meriah. Di tengah negeri yang masih gemar dengan hal-hal yang berkaitan dengan agama terutama. Mudah sekali disulut dengan sentimen agama dan kepercayaan.

Sering sukses untuk mengantar kelompoknya menang dalam pemilihan, maka cara yang sama akan dipakai ulang. Potensi menang lebih terbuka, karena memang pernah ada rekam jejak yang demikian.

Demokrasi yang masih mengandalkan popularitas, bukan  prestasi, ya wajar ketika sensasi agamis yang memang laris manis. Lihat saja model Nikita Mirzani, Dewi Persik saja laku keras. Wajar politikus yang memang kurang prestasi akan ikut-ikutan membangun dan menjual sensasi.

Padahal Jakarta begitu banyak hal yang bisa dijual. Misalnya bagaimana membangun Jakarta yang lebih ramah, Ridwal Kamil yang arsitektur, bisa menawarkan Jakarta  yang lebih indah dan manusiawi, kota modern yang nyeni, dan banyak lagi. Masalah yang demikian banyak dan perlu diselesaikan.

Persoalan bagi pendidikan juga banyak kog, salah satunya yang paling  jelas ya peringkat PISA, bagaimana itu diperbaiki, tentu saja tidak akan seksi dan menjual. Lain jika bicara mengenai agama, bekal surgawi jauh lebih menarik. miris

Digenjot sisi religius, namun angka korupsi atau maling juga masih demikian marak. Disiplin yang sangat rendah, eh malah intoleransi pun demikian masifnya, beragama yang berakal masih terlalu jauh. Malah tidak dibahas, itu bisa jadi malah menambahkan bekal untuk  berperilaku radikal.

Belajar agama banyak namun tidak semakin manusiawi, lebih suka mengotak-kotakkan, mengalienasi sesama, ini jauh lebih penting. Sayang pastinya hal demikian malah tidak akan menjadi perhatian, karena memang tidak menjual untuk memperoleh popularitas.

Salam Penuh Kasih

Susy Haryawan