Surat Terbuka untuk Presiden Prabowo Subianto: Menagih Realitas di Balik Etalase Makan Bergizi Gratis
Yth. Bapak Presiden Prabowo Subianto,
Langkah Bapak dalam memulai program Makan Bergizi Gratis (MBG) adalah sebuah janji kemanusiaan yang mulia. Kita semua sepakat bahwa anak-anak Indonesia adalah masa depan bangsa yang tidak boleh dibiarkan layu sebelum berkembang karena persoalan gizi. Namun, akhir-akhir ini, ada keganjilan yang menyesakkan dada. Seolah-olah, ada dua Indonesia yang sedang berjalan beriringan namun tidak saling sapa: Indonesia dalam laporan para pejabat Bapak, dan Indonesia yang dirasakan rakyat di lapangan.
Narasi “Langit” vs Realitas “Bumi”
Narasi mengenai MBG saat ini terasa sangat tidak seimbang. Di satu sisi, omongan para Menteri, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), hingga aktivis di lingkaran kekuasaan membangun opini bahwa program ini adalah yang terbaik di dunia. Bahkan, muncul klaim bahwa sistem kita mengalahkan negara-negara maju yang sudah puluhan tahun menjalankan program serupa. Perbandingan bombastis dengan restoran cepat saji global, hingga klaim mengungguli Amerika dan Jepang, terus dipompa ke ruang publik.
Bapak berkali-kali menyampaikan bahwa program ini mendapat pujian di Eropa dan menempati peringkat atas dunia. Bapak bercerita telah menerima laporan mengenai menu rendang sapi yang lezat dan lele utuh yang bergizi. Kepala BGN, Dadan Hindayana, pun tampil di depan kamera menunjukkan betapa enaknya menu tersebut sembari berkelakar bahwa anak-anaknya tumbuh setinggi 180 cm karena rajin minum susu.
Namun, Bapak Presiden, cobalah sesekali menanggalkan laporan-laporan kertas itu dan melirik ke lini massa. Di “Indonesia yang lain”, suara warga begitu masif mengeluh. Bukan karena mereka tidak bersyukur, melainkan karena kenyataan yang mereka hadapi sangat kontras. Ada laporan keracunan massal, ketidaksesuaian antara anggaran besar dengan menu yang hanya seadanya, hingga polemik tajam antara pegawai Satuan Pelayanan Makan Bergizi (SPMB) yang disebut relawan dengan para guru honorer yang merasa beban kerjanya kian tumpang tindih.

Antara 19 Ribu Sapi dan Piring Kosong
Salah satu pernyataan yang paling menghentak adalah klaim Kepala BGN bahwa setiap hari disembelih 19.000 ekor sapi untuk memenuhi kebutuhan gizi anak-anak kita. Angka ini luar biasa besar, sebuah statistik yang seharusnya mampu mengubah profil gizi bangsa dalam sekejap. Namun, mengapa kesaksian masyarakat di lapangan—baik yang terpantau langsung maupun melalui media sosial—tidak mengonfirmasi kemegahan angka tersebut?
Bahaya “Asal Bapak Senang” (ABS)
Bapak Presiden, kita harus jujur pada integritas penyelenggara negara kita. Jika kita melakukan survei jujur kepada rakyat—tanpa rasa takut atau keinginan sekadar menyenangkan atasan—apakah mereka yakin anggaran MBG ini bersih dari praktik korupsi? Rasanya 99% masyarakat akan menyatakan ketidakyakinannya. Mengingat rekam jejak penegakan hukum kita yang masih compang-camping dan banyaknya oknum yang gemar “ngakalin” aturan, program dengan anggaran “gurih” seperti MBG ini sangat rawan dijadikan ajang bancakan atau korupsi berjamaah.
Ada kesan kuat bahwa program ini dikerjakan secara serampangan karena mengejar target cepat. Padahal, sesuatu yang dipaksakan cepat biasanya tidak beres. MBG terlihat lebih seperti “proyek” untuk menyerap anggaran daripada sebuah “program” berkelanjutan. Para pembantu Bapak tampaknya hanya bekerja untuk menyenangkan hati Bapak semata. Ada asumsi kuat bahwa apa yang tersaji di depan meja Bapak telah melalui sensor superketat dan pengondisian (protokoler) yang sangat rapi.
Sebuah Saran: Sidak Tanpa Protokoler
Apa yang bisa Bapak lakukan agar tidak terus-menerus menjadi korban laporan “manis” para pembantu Bapak?
Lakukanlah sidak tanpa pengumuman. Jangan gunakan protokoler yang kaku. Jangan minta bantuan Ajudan atau Sekretaris Kabinet untuk mengatur jadwalnya, karena jika diatur, maka yang Bapak temui hanyalah sandiwara yang sudah disiapkan. Datanglah ke satu sekolah atau satu dapur SPPG yang tidak mencolok, di daerah yang jauh dari jangkauan kamera wartawan nasional.

Bapak mungkin tidak bisa blusukan sesering Presiden terdahulu, namun Bapak memiliki otoritas untuk datang sebagai seorang kakek yang ingin memastikan cucu-cucunya makan dengan layak. Datang, lihat, dan cicipi sendiri apa yang mereka makan di hari itu—bukan menu yang disiapkan khusus untuk menyambut Presiden.
Mengapa harus sejauh itu? Agar Bapak tahu realitas senyatanya. Selama ini ada dua narasi yang bertabrakan. Jika ada dua kisah yang berbeda, mana yang biasanya benar? Biasanya adalah suara dari bawah. Rakyat tidak punya kepentingan politik untuk berbohong secara kolektif. Mereka hanya bicara soal apa yang masuk ke mulut anak-anak mereka.
Sangat mudah bagi para bawahan untuk membuat “Bapak Senang” (ABS), apalagi mereka berada dalam satu barisan kepentingan. Namun, jika Bapak membiarkan ketidaksinkronan ini berlanjut, yang dipertaruhkan adalah kredibilitas kepemimpinan Bapak sendiri. Begitu banyak hal yang sebenarnya mempermalukan Bapak di mata publik, namun para pembantu Bapak seolah diam dan membiarkan Bapak hidup dalam gelembung informasi yang keliru.
Rakyat menanti kejujuran di atas piring makan anak-anak mereka.
Salam Penuh Kasih
Susy Haryawan
