Politik

Bobby Kertanegara dan Negara Tidak Baik-baik saja

Bobby Kertanegara dan Negara Tidak Baik-baik saja

Fenomena Apaan Sich?

Beberapa saat terakhir, sering berseliweran dalam lini massa media sosial keberadaan kucing kesayangan Prabowo dengan “pengawalan dan protokoler” kenegaraan. Pecinta hewan itu wajar, sangat banyak, dan baik adanya. Namun kalau hewan saja dikawal, bahkan hormat, seolah itu manusia, itu sudah tidak wajar.

Kemarin, dalam acaran 17-an si bobby yang kucing ini mengenakan pakaian dengan ornamen adat. Media memberitakan bahwa kucing itu terlihat lucu, menggemaskan, dan hal-hal yang menyenangkan. Lain dengan apa yang ditulis warganet. Si bobby yang ada dalam kereta dorong itu, memiliki pengawal, kereta yang mahal, pun pakaiannya. Pembandingnya adalah jangan-jangan apa yang dikenakan si kucing lebih mahal dari UMR kebanyakkan warga Indonesia.

Merdeka Sejati

Di tengah kelesuan ekonomi, tampilan bobby ini merupakan sebuah cermin minimnya empati pada rakyatnya sendiri. Kala rakyat sering kena pentung aparat, si meong duduk manis didorong orang berseragam, tidak jarang juga mendapatkan sikap hormat, seolah dia adalah bagian dari pejabat penting negeri ini.

Kucing itu pada hakikatnya lari-lari, lompat sana sini, tidur melingkar sambil mendengkur, mengejar kupu-kupu, dan yang paling umum mengejar tikus. Namun apa yang ada di dalam diri bobby? “Kehormatan” dan dipuja-puji sana sini. Hakikat kucingnya ilang.

Kontekstual dengan kemerdekaan bangsa ini, bagaimana bobby yang harusnya nangkepin tikus, apalagi jika tikus berdasi, itu baru penting. Sayang seribu sayang, ini malah nyaman dalam kereta dorong dan mendapatkan pengawalan. Buat apa keberadaanmu cing??

tikus

Simbol yang Nyata

Kucing harusnya nangkep tikus, ini malah nyaman dalam lindungan paspampres. Pantesan saja tikus-tikus berdasi berkeliaran dengan leluasa. Kucingnya sudah kekenyangan. Mana mau si empus makan tikus lagi. Naluri berburunya pasti tidak akan ada. Malah cenderung malas karena obesitas, banyak dipegang-pegang sebagai bagian dari mengambil hati si bos.

Keadaan negeri ini sedang tidak baik-baik saja. Pokok masalahnya ekonomi. Timpang antara pemasukan dan kebutuhan bernegara. Program populis mengguras APBN. Maka tidak heran keluar pernyataan guru dan dosen beban negara. Padahal  militer dimanjakan dengan penambahan komando daerah dan juga rekrutmen anggota sampai ribuan. Itu uang semua.

Anggaran Pendidikan yang masuk ke sekolah kedinasan begitu besar. Eh masih juga adanya makan siang bergizi gratis yang di lapangan masih jauh dari harapan. Toh uangnya benar-benar sudah dikeluarkan negara. wajar tarikan royalti gencar.  Pajak naik edan-edanan, menimbulkan aksi massa yang sama besarnya.

Rakyat yang merasa tercekik namun menyaksikan elit pada pesta pora dengan anggaran negara. kenaikan tunjangan di berbagai pihak. BUMN yang selalu rugi namun jajaran direksi memperoleh gaji, bonus, dan aneka keenakan lainnya dengan nol sembilan, dan presiden mengaku kaget. Eh, presiden bukan oposan atau merasa lagi kampanye.

Kapan rakyat bisa seenak bobby, polisi pun hormat, tidak malah dipalakin terus. Mosok iris ama meong sih, ya iyalah wong hewan malah mendapatkan kehormatan, rakyatnya menderita dibiarkan.

Salam Penuh Kasih

Susy Haryawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *