SBY Turun Gunung “Lagi”
Cukup lama publik tidak mendengar sumbang suara dari Cikeas. Paling tidak, sepanjang roda pemerintahan Presiden Prabowo Subianto mulai bergulir, baru kali ini Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) kembali “bernyanyi”. Pemandangan ini tentu kontras jika kita menengok ke belakang, khususnya pada masa pemerintahan Joko Widodo, terutama di periode pertama. Kala itu, kritik dan catatan dari sang Presiden ke-6 mengalir cukup rajin. Namun, begitu Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) resmi merapat dan mendapat kursi di dalam kabinet, Cikeas mendadak menjadi jauh lebih pendiam.
Meredupnya kritik tersebut sempat terusik beberapa waktu lalu. AHY mulai mencoba unjuk gigi. Dalam sebuah pernyataan, ia melontarkan kritik bahwa koordinasi kabinet saat ini terlalu egosektoral sehingga memicu tumpang tindih fungsi. Di sisi lain, ia juga terkesan ngotot memperjuangkan alokasi anggaran yang besar bagi kementerian yang dipimpinnya, dengan dalih urgensi program.
Sayangnya, manuver AHY ini gagal memicu ombak besar. Respons publik dan netizen terhitung adem ayem. Isu tersebut tenggelam dengan cepat tanpa sempat menciptakan polarisasi atau pro-kontra yang berarti. Diskusi di media sosial hanya bertahan sejenak, lalu hilang ditiup angin lalu.
Panggung Diplomatik Dino Patti Djalal vs Sentilan Mayor Teddy
Menariknya, riak politik yang justru memberikan dampak signifikan bagi eksistensi trah Demokrat belakangan ini bukan datang dari lingkaran utama partai, melainkan dari figur seperti Dino Patti Djalal. Eks menteri dan diplomat senior ini mencuri perhatian publik saat memberikan masukan terbuka kepada Presiden Prabowo dan Sekretaris Kabinet, Mayor Teddy Indra Wijaya. Masukan tersebut menyoroti tata kelola diplomasi, efisiensi kunjungan luar negeri, hingga optimalisasi peran para duta besar.

Konfrontasi paling brutal diperlihatkan oleh Mayor Teddy. Dengan nada menyindir, ia menyinggung masa jabatan Dino Patti Djalal yang singkat, dengan menyebut bahwa Dino hanya menjabat sebagai Wakil Menteri Luar Negeri selama tiga bulan di pengujung masa jabatan SBY. Ketegangan verbal ini sempat membuat jagat media sosial riuh dan menghadirkan tontonan politik yang lumayan seru.
Gong dari Cikeas dan Romantisme Masa Lalu
Di tengah situasi yang mulai menghangat itulah, sang maestro sesungguhnya turun gunung. Gong politik akhirnya dipukul sendiri oleh SBY. Presiden keenam RI ini tampaknya rindu dengan tabiat lamanya di era Jokowi. Ia kembali melempar petuah ke ruang publik: mengingatkan pemerintah untuk menjaga ketahanan ekonomi nasional, dan yang paling krusial, meminta agar tidak membebani masyarakat kecil melalui kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM).
“Jaga ketahanan ekonomi, terutama jangan bebani masyarakat dengan kenaikan BBM.”
Secara substansi, nasihat tersebut tentu sangat bagus dan berpihak pada rakyat. Namun, bukan SBY namanya jika tidak membungkus nasihat tersebut dengan gaya khasnya: ujung-ujungnya adalah pamer capaian dan romantisme keberhasilan masa pemerintahannya sendiri selama sepuluh tahun. Sebuah pola retorika yang amat familier bagi publik—khas Pak Beye.
Jika beberapa waktu lalu Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) sempat melabeli salah satu jenderal di pemerintahan dengan istilah tantruman, saya justru melihat gejala tantrum politik ini sudah diidap SBY sejak tahun 2016 lalu. Menariknya, kini dalam lingkaran kekuasaan, kita melihat ada dua jenderal bintang tiga yang diberi kehormatan naik menjadi bintang empat. Berada dalam satu angkatan, dan uniknya, sama-sama punya kecenderungan suka tantrum jika posisinya terusik.
Evaluasi Kinerja Antara Retorika dan Realita
Sebagai seorang mantan kepala negara, tokoh senior, sekaligus petinggi partai, masukan SBY tentu sah-sah saja dan bernilai positif sebagai bentuk kontrol warga negara. Namun, ketika kritik tersebut selalu dibarengi dengan upaya mendegradasi kebijakan hari ini demi memuji masa lalu, publik pun berhak menguliti rekam jejak digital. Toh, jika dibedah secara objektif, sepuluh tahun masa kepemimpinan SBY juga tidak luput dari berbagai rapor merah dan persoalan mendasar yang belum tuntas.
Lantas, apa tujuan sebenarnya dari orkestrasi kritik yang mulai dimainkan kembali oleh Cikeas ini?
Mau tidak mau, suka atau tidak suka, kita harus melihat AHY, elite Demokrat, dan SBY sebagai aktor politik praktis. Setiap gerak-gerik, desahan napas, hingga petuah bijak yang dilempar ke media, muaranya adalah kalkulasi keuntungan politik (political gain). Ambisi Cikeas untuk mengantarkan AHY ke kursi tertinggi republik ini—menjadi presiden—pasti masih menyala besar.
Namun, realitas di lapangan tidak semudah membalik telapak tangan. Melihat rekam jejak AHY selama menduduki jabatan menteri koordinator saat ini, kinerjanya belum cukup meyakinkan. Belum ada gebrakan monumental yang mampu menyihir publik atau membuat pemilih terpukau hingga merasa bahwa ia adalah sosok pemimpin masa depan yang dinanti-nantikan negeri ini.

Solusi Sederhana Bicara Lewat Karya
Padahal, rumus untuk menaikkan elektabilitas dan memikat hati rakyat itu sederhana. AHY tidak perlu sibuk mengomentari kinerja pemimpinnya, merongrong anggaran, atau menyindir rekan se-kabinet demi mencari panggung.
Kunci utamanya hanya satu: tunjukkan kinerja yang luar biasa.
Salam Penuh Kasih
Susy Haryawan
