FEATURED

Amien Rais di Pusara “Jebakan” Netizen

Senjakala Sang Provokator atau Salah Lawan?

Dunia politik Indonesia kembali diguncang oleh pernyataan kontroversial dari sosok yang pernah menjadi tokoh dalam reformasi, Amien Rais. Di masa senjanya, alih-alih menjadi sosok begawan yang menyejukkan, mantan Ketua MPR ini justru terperosok ke dalam lubang yang mungkin ia gali sendiri. Pernyataannya yang menyerang ranah pribadi Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya bukan hanya memicu polemik, tetapi berpotensi menyeretnya ke meja hijau. Kali ini, situasinya berbeda. Jika dulu ia bisa “selamat” dari gaya politik diam ala Jokowi, kini ia berhadapan dengan tembok keras rezim yang berbeda karakter.

Terjebak Narasi Media Sosial

Fenomena ini bermula dari riuh rendah media sosial. Netizen, dengan segala kreativitas dan terkadang kekejamannya, sering menciptakan istilah-istilah satir seperti “Buna”, “Bunted”, hingga spekulasi mengenai posisi “spesial” Seskab Teddy di lingkaran kekuasaan. Bagi warga net, ini mungkin sekadar bumbu percakapan digital atau guyonan politik. Namun, celakanya, politikus kawakan sekelas Amien Rais justru “nyelonong” masuk ke dalam narasi tersebut tanpa saringan.

Amien Rais mengeluarkan pernyataan tajam yang meminta Prabowo menjauhkan Teddy karena tuduhan orientasi seksual. Ini adalah blunder besar. Pernyataan tersebut bukan lagi kritik kebijakan, bukan pula nasihat politik, melainkan serangan personal yang sangat rendah. Di titik ini, Amien kehilangan marwahnya sebagai tokoh intelektual. Ia seolah-olah termakan umpan netizen, terjebak dalam echo chamber media sosial yang penuh asumsi tanpa verifikasi.

Kritik Substansial yang Terlupakan

Sangat disayangkan, karena sebenarnya ada banyak celah kritik konstitusional yang bisa diambil Amien jika ia ingin tetap menjadi oposisi yang berwibawa. Misalnya, ia bisa mempersoalkan posisi Teddy yang masih berstatus militer aktif namun menjabat posisi sipil strategis. Ia bisa mengkritik “super power” seorang Seskab yang membuat menteri-menteri harus melapor kepadanya, atau menyoal transparansi anggaran kegiatan tertentu.

Isu-isu seperti jabatan rangkap, etika birokrasi, dan profesionalisme militer adalah bahan kritik yang “bergizi” bagi kesehatan demokrasi. Namun, Amien justru memilih masuk ke wilayah privat: orientasi seksual. Masalahnya, siapa yang bisa memvalidasi kebenaran hal tersebut? Secara konstitusi, tidak ada larangan spesifik mengenai hal itu selama tidak melanggar hukum pidana. Dengan menyerang ranah privasi yang tidak memiliki bukti faktual maupun perilaku menyimpang yang terlihat di publik, Amien justru melakukan pembunuhan karakter yang tak berdasar.

Mentalitas “ABG” dan Haus Eksistensi

Perilaku Amien belakangan ini menyerupai remaja yang haus perhatian. Dalam psikologi perkembangan, ada istilah di mana remaja seringkali ingin menjadi yang pertama, paling berani, dan paling vokal demi meraih popularitas atau sekadar membuktikan eksistensi. Amien seperti remaja yang berani “menggoda guru” hanya karena dipanas-panasi oleh kawan-kawannya. Bedanya, kawan-kawannya (dalam hal ini netizen) hanya bercanda, sementara Amien melakukannya dengan serius di depan kamera.

Ironis bagi sosok yang pernah menjadi salah satu motor penggerak 1998. Di saat rakyat sedang bergulat dengan angka pengangguran yang tinggi, korupsi yang kian canggih, karut-marut anggaran Makan Bergizi Gratis (MBG), hingga ketidakjelasan program-program strategis lainnya, Amien malah sibuk dengan isu moralitas personal yang spekulatif. Ia kehilangan fokus pada isu kerakyatan dan justru terjebak pada gosip kelas bawah.

Gerak Cepat Komdigi: Tebang Pilih?

Reaksi pemerintah pun tak kalah mengejutkan. Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) bergerak sangat cepat menghapus video pernyataan Amien Rais tersebut. Tindakan ini memicu perdebatan baru. Di satu sisi, pembersihan sampah digital berupa fitnah memang perlu dilakukan. Namun di sisi lain, publik bertanya-tanya: mengapa Komdigi tidak secepat ini saat menangani judi online, penipuan digital, atau ujaran kebencian yang menyerang warga biasa?

Keanehan ini menunjukkan bahwa dunia digital kita masih sangat sensitif terhadap tokoh besar. Seolah-olah hukum digital hanya tajam ketika menyangkut lingkaran kekuasaan. Meski pernyataan Amien memang “ngawur”, namun kecepatan sensor ini menciptakan kesan adanya perlindungan istimewa bagi sosok-sosok tertentu di kabinet, sementara masyarakat umum dibiarkan bertarung sendiri melawan polusi digital yang merusak sendi kehidupan.

Prabowo-Teddy Bukanlah Jokowi

Amien Rais mungkin lupa bahwa lawan bicaranya kali ini bukan lagi Jokowi. Gaya kepemimpinan Jokowi yang cenderung membiarkan serangan dan membalasnya dengan “senyum tipis” telah berlalu. Prabowo Subianto memiliki basis pendukung yang loyal, militan, dan memiliki karakter yang jauh lebih tegas. Menyerang orang kepercayaan Prabowo dengan tuduhan personal yang merendahkan adalah cara tercepat untuk membangunkan “singa” yang sedang tidur.

Kini, sayap-sayap pendukung Prabowo mulai bergerak menempuh jalur hukum. Langkah ini sebenarnya penting untuk mendewasakan demokrasi kita. Kebebasan berekspresi tidak boleh dijadikan kedok untuk menebar nista, fitnah, dan penghinaan. Bangsa ini harus belajar membedakan mana kritik kebijakan dan mana pembunuhan karakter.

Menuju Kedewasaan Berbangsa

Kejadian ini menjadi pelajaran berharga bagi seluruh tokoh bangsa. Menjadi religius bukan berarti menggunakan kata-kata kitab suci hanya untuk menghakimi pribadi orang lain, lalu bersembunyi di balik kata “khilaf” atau “maaf” saat tersudut. Sikap religius yang sejati adalah sportivitas dan tanggung jawab atas setiap ucapan yang keluar dari mulut.

Amien Rais, di usia senjanya, seharusnya menjadi kompas moral, bukan justru menjadi produsen sampah digital. Jika hukum benar-benar ditegakkan, ini bisa menjadi titik balik agar tidak ada lagi tokoh politik yang merasa kebal hukum hanya karena alasan senioritas atau jasa masa lalu. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai privasi warganya namun tegas dalam menegakkan etika publik. Jangan sampai demokrasi kita hanya berakhir dengan drama “petentang-petenteng” yang berujung pada permintaan maaf yang munafik. Sudah saatnya kita bicara substansi, bukan sekadar asumsi yang merusak harga diri.

Salam Penuh Kasih

Susy Haryawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *