Teddy Seskab “Digampar”
Simbol Kegusaran Publik terhadap Protokoler Super
Minggu ini, jagat media sosial Indonesia diguncang oleh sebuah rumor panas yang menyebar bak api di pematang kering. Isunya tunggal namun menghentak: Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya dikabarkan “digampar” oleh seorang jenderal bintang tiga. Konon, sang jenderal merasa dipermalukan setelah tertahan di ruang tunggu saat hendak menghadap Presiden. Di sisi lain, Presiden dikabarkan murka karena merasa sang tamu tak kunjung nongol, padahal sang jenderal hanya patuh pada arahan protokoler negara—dalam hal ini, Teddy.
Meski media arus utama cenderung menjaga jarak dari isu yang dianggap “remeh” atau bersifat kasak-kusuk ini, riuh rendah di media sosial tidak bisa diabaikan. Fenomena ini bukan sekadar gosip politik; ini adalah potret bagaimana posisi seorang Seskab kini dianggap memiliki kekuatan yang luar biasa, melampaui pakem birokrasi tradisional, sehingga memicu gesekan di level elit yang sangat tajam.
Fenomena Fisik di Depan Kamera
Salah satu momen yang paling banyak dibicarakan masyarakat sebelum isu penamparan ini adalah saat Teddy memberikan konferensi pers terkait program Makan Bergizi Gratis (MBG). Fokus publik secara mengejutkan teralihkan dari substansi pembicaraannya menuju detail fisik yang sangat mengganggu: sudut mulutnya yang tampak mengeluarkan busa putih akibat air liur yang mengering saat berbicara.

Jenderal Menunduk pada Mayor?
Posisi Teddy memang kontroversial sejak awal. Publik masih ingat betul foto-foto yang viral beberapa waktu lalu, memperlihatkan jenderal-jenderal senior tampak memberikan hormat atau menunduk di hadapan sang perwira yang kala itu belum mencapai pangkat Letkol. Meski sempat ada klarifikasi bahwa momen tersebut hanyalah masalah sudut pandang kamera (framing) di mana sang jenderal sedang menunduk saat sang perwira menghormat, narasinya sudah telanjur melekat.
Bagi masyarakat luas, apakah peristiwa “gamparan” itu benar-benar terjadi secara fisik atau tidak, sebenarnya tidak lagi menjadi soal utama. Di tengah sulitnya mencari “cuan” dan tekanan hidup, isu ini menjadi katarsis. Ada kepuasan tersendiri bagi publik ketika mendengar seorang pejabat yang dianggap “kebal” dan “superior” akhirnya mendapatkan teguran keras dari otoritas yang lebih senior. Kegembiraan seluruh negeri atas rumor ini adalah tanda bahwa ada sesuatu yang salah dalam cara pejabat tersebut memposisikan diri di mata rakyat.
Gaya “Pokoknya Ada” dan Masalah Transparansi
Kualitas kepemimpinan Teddy juga diuji saat ia menjawab pertanyaan awak media mengenai anggaran sebuah even besar di Jakarta. Dengan enteng dan raut wajah tanpa beban, ia menjawab singkat: “Pokoknya ada…”. Jawaban ini jelas ngawur. Bagaimana mungkin seorang pejabat setinggi Seskab, yang mengelola administrasi kabinet tertinggi, tidak mampu memberikan penjelasan transparan mengenai asal-usul anggaran negara?
Sikap “pokoknya ada” ini memicu kekhawatiran besar bahwa pengelolaan negara dilakukan dengan cara-cara amatiran. Jika uang negara bisa keluar tanpa penjelasan yang jelas, publik berhak curiga bahwa anggaran sering kali “boncos” tanpa hasil nyata, atau aturan diubah-ubah demi kepentingan segelintir elit. Transparansi adalah nyawa demokrasi, dan jawaban semacam itu adalah bentuk pelecehan terhadap akuntabilitas publik.
Kemewahan di Tengah Kesulitan
Sebelum isu “gamparan” mencuat, publik sudah lebih dulu geram dengan gaya hidup sang pejabat. Ada dua perayaan ulang tahun yang menjadi sorotan: pertama di Paris saat mendampingi Presiden, dan kedua di kantor Seskab bersama para staf. Masyarakat mempertanyakan penggunaan fasilitas dan uang negara untuk urusan privat tersebut, apalagi mengingat harga sewa hotel di Paris yang sangat fantastis.
Di kantor sendiri, dekorasi dan pernak-pernik ulang tahunnya terlihat penuh dengan nuansa sektarian atau politik tertentu. Ini sangat bermasalah karena kantor negara adalah milik publik, bukan milik kelompok atau pribadi pejabat. Fenomena ini memperkuat kesan bahwa negara sedang dikelola dengan gaya “seenaknya sendiri”, seolah-olah semua tindakan mereka benar dan sah-sah saja hanya karena mereka berada di lingkaran dalam kekuasaan.

Pergeseran Hirarki: Menteri yang “Menghadap” Teddy
Anehnya lagi, belakangan ini media sosial kerap menampilkan menteri-menteri aktif yang justru tampak “menghadap” Teddy. Secara struktural, menteri seharusnya berkoordinasi dengan Menko, Wapres, atau langsung kepada Presiden. Munculnya Teddy sebagai “pintu masuk” tunggal menimbulkan pertanyaan besar: apa sebenarnya kapasitas dan kemampuan hebat yang ia miliki sehingga para menteri harus tunduk pada protokoler yang ia buat?
Kedudukan “super” yang ia nikmati, yang tampaknya lebih didasarkan pada relasi kedekatan daripada kapasitas manajerial, telah merusak tatanan birokrasi. Hal ini membuat banyak pihak merasa jengkel, dan itulah sebabnya isu “gamparan” jenderal tersebut disambut dengan suka cita oleh banyak orang. Tamparan itu dianggap sebagai wakil dari kejengkelan kolektif masyarakat yang melihat perilaku pejabat yang berlagak layaknya “dewa” tak tersentuh.
Penutup: Mengakhiri Birokrasi Ugal-ugalan
Sering terlihat ia menarik atau menggeser pejabat yang pangkatnya jauh lebih tinggi karena dianggap menghalangi jalan Presiden. Memang, itu adalah tugas protokoler, namun kesantunan dan etika seharusnya tetap dijaga. Ia adalah staf, bukan sang Presiden itu sendiri.
Salam Penuh Kasih
Susy Haryawan
