Anggaran Pendidikan Minim, Mau Naikin Peringkat PISA
Anggaran Pendidikan Minim, Mau Naikin Peringkat PISA
Proyeksi Anggaran Pendidikan Mengalir ke Mana-mana
Negara diharapkan memberikan anggaran ke dunia Pendidikan sebesar 20%. MK pun sudah menegaskan hal tersebut, namun apa yang terjadi? Selain di bawah anggaran Kemenhan dan Kemenag, di masa modern ini sejatinya tidak lagi penting sal pertahanan dengan anggaran wah, apalagi mengenai agama. Harusnya tidak usah sebesar itu. Belum lagi larinya ke satu saja agama.
Beberapa waktu lalu ramai dibicarakan, bahwa anggaran Pendidikan Nasional yang tampak besar itu tidak sampai pada hakikatnya. Malah besar untuk sekolah kedinasan yang ada di berbagai kementerian. Lagi-lagi Kemenhan juga memiliki banyak banget sekolah model ini, dana negara, pesertanya anak-anak pejabat yang dulu juga didanai negara. Enak banget.

Dana Pendidikan Meluber ke Mana-mana
Makan Siang Bergizi Gratis. Begitu besar anggaran yang diperlukan. Keuangan negara benar-benar tersedot ke sana, termasuk dalam hal ini anggaran Pendidikan. Sebenarnya tidak ada yang salah, toh untuk anak sekolah juga. Masalahnya, kenapa lagi-lagi yang kerja kog TNI. Apa kapasitas dan pengalamannya mengenai makan, gizi, dan Pembangunan dapur?
Beda lah dapur dan makanan untuk tentara dan anak sekolah. Wajar ketika begitu banyak masalah timbul sejak ada program ini. Makanan yang meracuni, menu yang menggelikan, dan keberadaan dapur yang banyak simsalabim.
Sekolah Merah Putih. Nah ini lagi, ada pula tentara masuk. Aneh bin Ajaib, di mana-mana ada. Padahal belum tentu juga karakternya bener, paling bagus di negeri ini. Toh disiplin ketika di kantor atau markas, di luar juga sama saja. Apanya yang mau dituju dengan mentor mereka ini?

Anggarannya juga pasti dari anggaran Pendidikan, asrama, ada tenaga professional, dokter, perawat, psikolog, tentara. Bangunan baru lagi, jangan-jangan juga militer yang buat. Ajaib luar biasa. Padahal jika mau mengentaskan anak miskin biar meningkatkan taraf hidupnya tidak perlu sekolah baru. Di sekolah biasa, baca negeri yang sudah meruyak itu, full beasiswa, beaya hidup sehingga makanan bergizi, masih di tengah keluarga jelas lebih sehat.
Beda kasus kalau memang basisnya adalah proyek. Anak di tengah keluarga jelas lebih baik, kecuali level mahasiswa. Semakin dini di asrama, dampaknya ke arah negatif lebih gede.
Negara tidak akan cukup dananya, kalau dasarnya selalu proyek. Apa-apa proyek, aku dapat apa dari sana. Mau jutaan persen pajak tidak akan pernah mampu membeayai gaya hidup elit. Rakyat hanya diberi cipratan seolah itu jasa negara.
Salam Penuh Kasih
Susy Haryawan
