Jujurnya Novel Bamukmin
Selamat atas terpilihnya Ketua PB NU, Yahya Cholil Staquf
Eh ternyata ada yang kebakaran jenggot atas terpilihnya kakak Menteri Agama itu sebagaui ketua PB NU. Novel Bamukmin, biasa melontarkan pernyataan atas dasar ketidaktahuan. Ia hanya pion yang diperintahkan untuk berteriak-teriak. Kek toa yang hanya bisa bunyi karena ada manusia atau alat yang mengeluarkan suara.
Keberadaannya di antara duo penggerak massa, Rizieq dan Munarman, ketika keduanya dicokok polisi rela atau berat hati para pemakai jasa mereka tetap memercayai Novel. Corong kebenciannya lugas dan lantang. Soal isi benar atau tidak, kan gampang tinggal minta maaf dan selesai.
Kini, sasarannya ke ketua PB NU baru. Bagaimana ia mengatakan Yahya tidak tahu agama. Ini kan sebuah analogi menunjuk. Bagaimana telunjuk tertuju keluar, namun empat jari lain mengarah kepada diri sendiri.
Ia, si Novel yang mau mempermalukan Yahya, namun karena memang kemampuannya segitu tidak berkaca, bagaimana Yahya itu memiliki kultur dan darah santri. Mana ada sih, anak pengasuh ponpres tidak bisa mengaji. Sebengal-bengalnya anak kyai, pasti di bawah 10 tahun masih taat untuk belajar.

Berbeda tentu saja dengan Bamukmin yang sama sekali tidak memiliki latar belakang keagamaan ketat seperti Yahya. Hanya label, pakaian, dan sorban yang mau menggambarkan citra Arab. Lha emang Arab sudah mesti ngerti agama?
Kedua. Menang karena uang. Lagi-lagi ini adalah pengakuan. Bagaimana ia biasa bermain uang dan kecurangan dalam mencapai sesuatu. Orang menjahit baju akan mengukur badannya. Ini adalah pengakuan bawah sadar.
Mengapa Bamukmin menyerang siapa saja? Periuknya oleng karena proyek dan agenda dema demo kini sepi peminat. Hanya sebuah aksi kecil-kecilan yang tidak laku. Bagaimana ia bisa hidup ketika sepi orderan.
Kejujuran itu mahal. Pengakuan bawah sadar karena panik seperti ini adalah cerminan aslinya si penuding itu. ukurannya sendiri diterapkan pada pihak yang lain.
Salam Penuh Kasih
Susy Haryawan
