Politik

Menanti SBY

Konon ada empat faksi dan masing-masing sudah menyatakan diri untuk tidak mau peduli. Salah satunya kelompok Anas Urbaningrum dan loyalisnya. Mereka sangat mungkin berdiri sendiri dari pada ribut bersama dengan penguasa Demokrat.  Perpindahan tahanan Anas ke Bandung usai ketetapan hukumnya tetap, usai PK ditolak, jelas mengurangi energi mereka untuk ribut.

Marzuki Ali sudah melapor kepada SBY mengenai tudingan keterlibatan kudeta yang dilontarkan oleh Syarif Hasan. Hal yang sama juga Max Sopacua, yang merasa tersinggung dan marah dituding demikian. AHY dan badan komunikasi dan  strategi Demokrat sekaligus jubir resmi langsung meminta maaf. Jika demikian, masalah justru ada pada Syarief Hasan, kog Jokowi.

AHY ternyata masih cukup gagap melihat, menilai, menimbang, dan menyaring informasi. Ada hal-hal yang tidak terlihat namun itu kadang lebih berbahaya. Dalam konpresnya ia mengataakan mendapatkan info, ternyata intelijennya masih kalah canggih. Bisa dibandingkan, bagaimana kendali kemampuan intelijen partai dan negara, siapa lebih sigap, terlatih, dan bisa dipercaya hasilnya.

Dua pihak paling tidak sudah menyoal Syrief Hasan, penyebutan nama yang oleh AHY tidak dilakukan itu berbahaya. Cukup bijak AHY dalam siaran persnya mengatakan pihak-pihak tertentu, tanpa nama, eh malah ada kadernya yang menyebutkan nama, ini sangat tidak elok. Boleh dong orang membacannya Syarief sedang memperolok pihak yang tidak dipakai AHY.

Jika didiamkan, sangat merugikan AHY dan Demokrat secara umum. SBY harus turun tangan sendiri. Mengapa SBY?

AHy sedang babak belur, emosional tidak terkendali pastinya menyaksikan apa yang terjadi atas ulahnya selama ini. Pasti tidak akan menyangka malah berbalik menyerang ke dalam Demokrat sendiri. Benar pernyataan Ferdinand Hutahaean bahwa ini bisa terjadi kudeta beneran, awalnya hanya istilah namun kemudian menjadi ide, gagasan, dan menimbulkan keberanian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *