MBG dan Segala Kelucuannya: Setahun 365 Hari Tanpa Libur?
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tampaknya sedang menunjukkan sisi “ribet” yang melampaui manfaatnya. Salah satu titik paling membingungkan adalah bagaimana program ini menyikapi masa libur sekolah.
Baru-baru ini, pernyataan para pimpinan proyek ini justru saling bertabrakan. Ada yang mengatakan program tetap jalan dan siswa silakan mengambil makanan ke sekolah, sementara pimpinan lain menyebut makanan akan diantar langsung ke rumah.
Logika Distribusi yang “Ngaco”
Mekanisme ini sangat laik diulik. Jika siswa disuruh mengambil ke sekolah saat libur, siapa yang akan mengurus koordinasi dan distribusi di lapangan? Pihak sekolah pun sedang libur. Bukannya membantu, ini justru membebani orang tua. Esensi hari libur adalah istirahat, bukan malah disibukkan dengan urusan logistik makan siang.

Kekeliruan Pemetaan Basis Data
Jika targetnya adalah pemberian makan 365 hari setahun tanpa jeda, maka basis datanya seharusnya bukan sekolah, melainkan Kartu Keluarga (KK) atau domisili. Sekolah secara alami memiliki kalender libur—Minggu, hari besar, hingga libur semester. Memaksakan program berbasis sekolah di hari libur adalah kegagalan pemetaan yang fatal.
Selain itu, muncul pertanyaan krusial mengenai transparansi anggaran:
- Perbedaan Hari Sekolah: Bagaimana dengan daerah yang menerapkan 5 hari sekolah dibanding 6 hari? Ke mana dialokasikan dana untuk hari-hari “kosong” tersebut?
- Siswa Magang: Di SMK, siswa kelas akhir bisa magang hingga enam bulan. Jika satu sekolah memiliki 420 siswa yang magang termasuk yang ada di luar kota, ke mana perginya jatah ratusan ompreng tersebut? Tidak mungkin nasi dikirim ke lokasi magang yang beda kota. Ini adalah proyek besar yang dikelola dengan kesan asal-asalan.
Dari Kostum Superhero hingga Limbah Ternak
Kekacauan ini diperparah dengan usulan-usulan “lucu” dari pemangku kebijakan. Salah satunya adalah usul agar pengantar makanan memakai kostum superhero demi meningkatkan nafsu makan siswa. Ini ide yang tidak menapak bumi. Pengantar makanan hanya bertugas mengantar, lalu pergi ke sekolah lain—mereka bukan pendamping makan yang harus menghibur siswa.
Di sisi lain, viral video yang menunjukkan sisa makanan dari dapur satuan pelayanan yang berakhir menjadi pakan ternak. Ini adalah alarm keras. Jika sisa makanan begitu melimpah hingga mampu menggemukkan ayam, artinya ada yang salah dalam distribusi atau selera makan siswa. Alih-alih meningkatkan gizi generasi bangsa, program ini justru tampak seperti subsidi untuk hewan ternak.
