Program Unggulan Prabowo Saling Meniadakan
Asal Program Bukan Kemendesakan
Menarik apa yang dinyatakan seorang netizen bahwa pemerintah itu sering mengambil kebijakan dengan dukungan ahli untuk membenarkan kebijakannya tersebut. Padahal, seharusnya ahli diajak untuk merumuskan kebijakan, kelebihan, kekurangan, dan potensi yang ada. Semua dianalisis dan dijadikan Keputusan.
Pelawak jadi pejabat, orang asal ada duit bisa menjadi anggota dewan. Sebuah kisah miris, mosok Rencana Tata Ruang Wilayah yang disingkat RTRW, ada seoang anggota dewan yang menghardik kepala dinas, ngapain kepala dinas ngurus RTRW, dalam arti Rukun Tetangga dan Rukun Warga. Ini istilah teknis sangat umum saja tidak tahu. Dijelaskan, pastinya akan marah karena malu. Bayangkan orang bodoh namun punya kuasa, bisa dinasihati tidak? Pastinya tidak.
Kontradiktif
Unggulan Prabowo itu MBG, Koperasi Merah Putih, dan ketahanan pangan. Ketahanan pangan berarti butuh lahan subur, luas, dan produktif. Tidak semua lahan bisa menghasilkan padi atau beras. Ingat sawah itu tidak semua kawasan di Indonesia bisa memproduksi.

Belum lagi lahan untuk dapur SPPG di mana-mana cenderung sawah produktif, dikeringkan, dan dibangun dapur. Pun dengan KMP, sawah sangat subur, dijadikan bangunan. Bagaimana bisa omong ketahanan pangan, sedangkan ketersediaan lahan yang jelas-jelas sudah menghasilkan padi bagus malah dialih fungsikan. Jangan dianggap sepele lho.
Zaman sudah modern, benar, sawah harusnya menghasilkan jauh lebih banyak dengan luasan yang lebih kecil. Atau menciptakan lahan yang baru untuk bisa dijadikan sawah penghasil padi. Lahan yang selama ini tidak bisa ditanami padi, rekayasa yang pastinya bisa dengan kemajuan ilmu dan teknologi.
Mengapa fokus padi? Ya karena pemerintah pasti tidak akan mampu mengembalikan kekayaan local dengan Papua, Maluku, Kalimantan makan sagu, Nias makan talas, Madura makan jagung, ada pula kebiasaan makan gaplek, ketela kering, di beberapa kawasan Jawa, seperti Gunung Kidul, Wonogiri, Pacitan, Ponorogo, dan daerah yang memang sawah tidak banyak.
Aksi Orba yang ngaso kini dipanen bangsa ini, semua harus makan nasi. Padahal produksi sudah susah untuk memenuhi begitu banyak mulut. Import, buka hutan, semua bencana, kecuali elit yang pesta pora.
Seolah sederhana, bagun Gedung demi kelihatan monumental, di mana-mana ada gedung gagasan Prabowo, makanya ada photonya segede gaban, namun ngeri dampaknya. Apa sih yang ada di benak para pemimpin ini? Sekadar proyek? Atau memang mau membantu Masyarakat?
Salam Penuh Kasih
Susy Haryawan
