Simalakama Pendidikan Indonesia, Pendidikan Gratis, dan Beaya UKT Mahal
Simalakama Pendidikan Indonesia, Pendidikan Gratis, dan Beaya UKT Mahal
Beberapa waktu lalu heboh mengenai beaya pendidikan khususnya UKT Pendidikan tinggi naik luar biasa. Heboh, protes di mana-mana, akhirnya ditunda. Kemudian berdiskusi dengan guru yang baru saja purna. Beliau mengatakan, bahwa Pendidikan gratis itu membuat anak didik kurang greget dan semangat untuk belajar. Dua hal yang bertolak belakang.
Jer basuki mawa bea, semua hal membutuhkan beaya. Hal yang tepat. Pendidikan gratis bagi yang tidak mampu, dan bagi yang mampu ya silakan membayar. Titik Tengah yang jauh lebih bijak, selaras dengan hakikat Pendidikan.
UKT atau Beaya Pendidikan Tinggi Mahal
Susah diterima jika terlalu mahal atau tinggi. Elitis jadinya, padahal Pendidikan harus terjangkau. Tidak harus mahal, namun terjangkau semakin banyak pihak. Solusi lain adalah subsidi silang. Pihak yang mampu ya membayar lebih tidak masalah.
Namun, sikap sebaliknya yang terjadi. Lihat bagaimana bansos, BLT, dan bantuan-bantuan sering salah sasaran. Artinya mereka enggan untuk berbagi. Maunya mengumpulkan.
Mahal itu tidak ada yang salah. Masalah itu kalau tidak terjangkau, atau memaksakan pihak-pihak yang memang tidak mampu. Hal yang perlu disadari, ini adalah persoalan.
Pendidikan Gratis
Pendidikan harus dijangkau semua pihak, gratis itu sebuah tawaran yang bagus. Namun, melihat model daya juang dan menilai tidak berbayar itu biasa atau bahkan buruk. Meremehkan.
Kemampuan ekonomi masyarakat sudah tidak lagi terlalu rendah. Mereka banyak yang sudah mampu untuk membeayai Pendidikan anak-anaknya.

Sekolah swasta yang berbayar mahal pun banyak peminatnya. Bisa disimpulkan bahwa kemampuan finansial sekolah berbayar tidak ada masalah.
Konsekuensi logis mau mahal atau gratis. Semua mengandung risiko masing-masing dan memilih paling kecil dampak buruknya.
Memilih berbayar atau tidak itu sebuah pilihan yang sama-sama mengandung risiko. Ada dampak baik dan buruk apapun pilihannya. Memilih yang paling sedikit dampak jeleknya jauh lebih bijaksana.
Salam Penuh Kasih
Susy Haryawan
