Urgensi Seragam Sarung Pegawai Pemrov Jateng
Tidak Sektarian, atau Rasis, namun Filosofis
Entah apa yang ada dalam benak pejabat Pemrov Jateng dalam menetapkan sarung sebagai seragam pegawai setiap hari Jumat. Apakah ada kaitannya dengan latar belakang para punggawa tertinggi di Provinsi Jawa Tengah? Sangat mungkin. Apa sih urgensinya dengan seragam, itu yang penting.
Pertama, konon lagi efisiensi. Pengadaan seragam ini pasti butuh anggaran sangat besar. Jangan katakana, halah kan hanya sarung, berapa sih harganya. Kalikan saja berapa puluh ribu pegawai pemerintah provinsi yang harus dibelikan seragam itu. Lebih konyol lagi jika pegawai disuruh membeli sendiri.
Kedua, Jawa Tengah, lebih pas jika mengenakan jarik,jarit, atau kain batik, sebagaimana zaman pergerakan. Ini tidak bicara mengenai feodalisme, namun kekhasan, khasanah yang harus dipelihara, dilestarikan.
Ketiga, sarung itu identik dengan santri, budaya pondok pesantren, tidak mencerminkan Jawa Tengah secara utuh. Benar, Jawa Tengah, banyak memiliki kar budaya Kerajaan Islam, namun lebih pas dan lebih tua, budaya dan kebudayaan Jawa-nya. Pun lebih sejiwa dengan Pancasila.

Keempat, jika mengenakan jarik, tidak berkaitan dengan ibadah atau budaya agama tertentu. Lebih nasionalis, universal, dan umum. Pakaian kebesaran Jawa yang malah tersingkirkan atas nama ribet, tidak praktis, dan kuno. Mengapa kalau sarung tidak dianggap demikian??
Kelima, kelihatannya Jawa Tengah masih ada di dalam NKRI dengan dasarnya Pancasila. Sarung keknya bukan identitas Nusantara secara umum, namun sudah milik agama tertentu. Nah, pemerintah provinsi berarti terdiri atas banyak agama dan kepercayaan, kan menjadi aneh, ada pakaian yang lebih tepat, jarik misalnya.
Keenam, masalah Jawa Tengah itu masih banyak malah memberikan usulan yang remeh temeh, peninggian jalan Kali Gawe, sekolah enam hari, dan kini sarungan dalam bekerja. Buruh sritek yang gulung tikar, itu bukan satu-satunya PHK, kondisi ekonomi yang super sulit, dan banyak lagi, eh malah memiliki ide yang tidak cukup mendasar.
Ketujuh, etos kerja, kinerja, dan kedisiplinan pegawai negeri yang memprihatinkan. Hal ini jauh lebih bernilai, berbobot, dan penting dari pada sekadar seragam. Untuk apa ngurus pakaian, padahal ada yang lebih mendasar dan penting.
Kedelapan, kemampuan siswa-siswi sekolah itu memprihatinkan. Coba jika pemerintah daerah membuat Gerakan jam wajib belajar, habitus atau kebiasaan membaca, berkesenian, berkebudayaan, karya sastra, karya inovasi, ealah ini malah sarung, sekadar pakaian, asesoris, dan itu maaf sama sekali tidak penting.
Membangun Semangat Nasionalisme
Nasionalisme bangsa ini makin terkikis. Kebanggaan sebagai Nusantara yang berlandaskan Pancasila makin pudar. Salah satunya dengan atribut agama dan budaya tertentu. Membangun sikap dan mental nasionalis itu mendesak.
Salam Penuh Kasih
Susy Haryawan
