Pena 98 Mengeliminasi 2/3 Kandidat Capres
Pena 98 Mengeliminasi 2/3 Kandidat Capres dengan Kriteria Mereka
Salah satu produk reformasi, para penggerak penumbang Soeharto, ini asli bukan hanya klaim, mengeluarkan kriteria capres 24. Pena 98 menyatakan sedikitnya dua kriteria yang membuat dua kandidat dari tiga hasil rilis survey-survey selalu teratas. Ganjar, Prabowo, dan Anies, bahkan nama terakhir sudah dideklarasikan partai Nasdem, dan sudah pula kampanye keliling Indonesia.
Nama-nama ini, Ganjar, Prabowo, dan Anies ada di papan atas hasil survey, elektabilitas sudah menjadi sebuah rujukan yang meyakinkan bagi parpol utamanya. Tidak ketinggalan juga pemilih rasional cenderung mengiyakan itu. Artinya hasil survey tidak akan jauh berbeda dengan kemungkinan yang terjadi di pemilunya nanti.
Dua kriteria yang autodepak dua kandidat itu mengatakan, pertama tidak terikat dan membawa beban masa lalu, Orba. Kedua, bukan pelaku politik identitas. Nah, jelas siapa-siapa yang dimaksud tanpa menyebut nama sekalipun.
Belum lagi jika bicara pelanggar HAM berat. Meskipun sudah melalui persidangan berkali ulang tanpa ada putusan untuk Prabowo. Catatan keras mengenai kekerasan yang sempat terjadi di penghujung kekuasaan Soeharto dan mertua Prabowo itu.

Catatan kedua, bukan pengusung, pendukung, dan pendulang untung dari politik identitas. Anies Baswedan mendapatkan keuntungan politik identitas ketika pilkada DKI 2017. Pendukungnya menggunakan, ayat dan mayat untuk kampanye. Si cagub tidak bersikap apa-apa dengan cara pendukungnya itu.
Jika, kini mengaku nasionalis, toleran, dan bukan pengusung identitas dalam politiknya, toh, ia pertama kali yang sowan kepada Rizieq Shihab ketika ia pulang dari kabur. Semua juga paham siapa RZ itu, orasi, demo, dan bahkan pengajiannya seperti apa. Mosok pendukung seperti itu bisa mengaku diri nasionalis dan toleran.
Rekam jejaknya susah dipercaya sebagai pemimpin toleran dan nasionalis. Aksi-aksi drama, pencitraan kunjungan kepada tokoh agama atau masuk rumah ibadah, namun perilakunya jauh dari itu semua. Kebersamaan dengan kelompok-kelompok yang kental dengan aroma identitas tidak mudah terhapus dengan menyematkan nama tokoh Kristen.
Ditambah, bukan tersangkut atau ada urusan dengan korupsi. Berapa banyak pemeriksaan, dugaan, dan juga pembicaraan mengenai kasus keuangan DKI Jakarta. Padahal sederhana, mengapa e-budgeting era Ahok harus dibuang, kalau memang tidak akan maling.
Usai membuang salah satu sarana transparansi itu, muncul salah bayar, salah ketik, kelebihan bayar, dan seterusnya. Mosok membeli alat tulis, lem, dan hal remeh-temeh sampai milyar. Sejatinya mulai menghapus sarana keterbukaan itu sudah indikasi ada apa di sana.
Catatan-catatan yang cukup tajam, jelas, gamblang, dan kudu menjadi perhatian publik. Jangan terkecoh kemasan. Rekam jejak itu jauh lebih penting untuk melihat itu semua.
Salam Penuh Kasih
Susy Haryawan
