Kemenaker Bingung Target Lowongan Kerja, Investor “Ditolak”
Kemenaker Bingung Target Lowongan Kerja, Investor “Ditolak”
Ternak Babi Bernilai Triyunan Haram, Investor Pergi
Pihak Kementerian Tenaga Kerja kalang kabut karena target penyediaan lowongan kerja jauh dari realisasi. Paing gampang menurunkan target mereka sendiri. Di sisi lain badai PHK ada di mana-mana, karena memang kondisi ekonomi sedang tidak baik-baik saja. Eh terdengar dari Jawa Tengah ada investor besar, yang mau menanamkan uangnya membuat peternakan babi batal karena adanya campur tangan dogma agama tertentu.
Investasi dan Rasa Aman
Miris sebenarnya, Indonesia ini rawan untuk investasi. Beberapa waktu lalu ramai dan riuh rendah ormas yang malak pada pengusaha-pengusaha. Berbagai bentuk, mulai minta THR, jasa keamanan, ketika membangun mereka minta jatah untuk menyediakan material, harga jelas sudah dinaikan, belum lagi jalan yang ditutup. Cek saja atau tanya pada pemain proyek pasti paham seperti apa di lapangan. Ekonomi beaya tinggi yang tidak berkaitan dengan beaya produksi.

Investor itu perlu jaminan keamanan, baik dana mereka apalagi keamanan nyawa mereka dan karyawan yang di dalam naungan mereka. Selama ini terdengar dengan massif, bahwa keadaan itu jauh dari harapan. Pihak berwenang pun susah diyakini bahwa bisa menjadi pengayom. Maka tidak heran, lebih memilih lapor DAMKAR, padahal bukan tupoksi mereka ini.
Jaminan ini masih belum bisa dirasakan, masyarakat saja tidak yakin, apalagi pemilik modal. Mereka pastinya enggan kehilangan modalnya, jangan sampai tidak untung malah buntung.
Investasi itu Hukum Positif, bukan Hukum Agama
Haram dan halal itu bagian dari hukum negara. Memangnya babi akan dijual di warung-warung dan pasar-pasar seperti daging sapi atau ayam? Pastinya tidak. Hukum agama ya mengatur para pengikutnya saja, tidak memasuki ranah hukum positif bernegara. Sinergi, bukan malah saling merugikan.
MUI sebenarnya tidak perlu risau dengan keberadaan peternakan babi, wong masyarakat terutama Muslim memang sangat taat untuk tidak makan daging babi. Sering kan ledekan atau meme mengatakan korupsi, cabul, perkosaan massif, asal tidak makan daging babi. Lha apanya yang ulama takutkan lagi?

Negara harusnya tegas, jelas, bahwa Pancasila menjamin kebebasan, termasuk investasi. Perusahaan babi in ikan hanya haram, terlarang, dikonsumsi oleh umat Islam, yang lainnya kan tidak. Pangsa pasar global ternyata juga ada. Ekspor ke Singapura ternyata cukup besar.
Bisa dibayangkan berapa banyak tenaga kerja yang bisa terserap oleh investor senilai 30 T, semua buyar karena ikut campurnya konsep agama dalam bernegara. Katanya negara Pancasila bukan negara agama, faktanya?
Salam Penuh Kasih
Susy Haryawan
