Politik

Kejujuran Akademik dan Negeri Religius

Kejujuran Akademik dan Negeri Religius

Kala Agama Tidak Mencerminkan Perilaku Utama

Sebuah survei menyatakan, bahwa dunia Pendidikan di Indonesia sangat tidak jujur. Ada pada peringkat kedua terbawah dalam ketidakjujurannya. Apa yang dilaporkan berkaitan dengan jurnal ilmiah yang tayang di lemgaba yang tidak tepercaya. Apakah ini mewaliki dunia Pendidikan di negeri ini seutuhnya? Laik kita ulik lebih lanjut.

Beberapa waktu lalu, salah satu Menteri kabinet  negeri ini ketahuan bahwa masa studinya menggunakan jalur akselerasi super kilat. Ujungnya diminta untuk “menunda” ujian disertasinya. Kemudian muncul bahwa penelitiannya bukan milkinya. Ya jelaslah wong waktu yang sedemikian singkat, kapan melakukan risetnya?

Sebenarnya Menteri dan ketua partai besar dan sakti ini bukan pertama apalagi satu-satunya. Lihat saja gelar berderet-deret dari para politikus, militer, atau polisi itu, kapan mereka kuliah? Apakah ini bukan bukti ketidakjujuran juga?

Lebih jauh, bagaimana masuk sekolah favorit yang begitu mahal dengan uang ini dan itu. Sering juga kita tahu dengan baik bahwa si anu seharusnya tidak bisa, namun karena dekat dengan pejabat atau politikus, akhirnya bisa lolos. Pun dengan sekolah-sekolah kedinasan dan beasiswa. Suaranya sangat nyaring, namun tidak akan terbukti. Pun aroma menguar sangat busuk, namun toh semua tahu sama tahu. Senyap.

Hasil survey tadi sebenarnya juga membuktikan, bagaimana beberapa saat yang lalu, heboh keberadaan guru besar yang melakukan akal-akalan untuk bisa menyandang professor itu. Tunjangan gede dari negara membuat banyak ilmuwan itu abai akan etika.

Negeri Religius

Miris sebenarnya dengan perilaku seperti di atas. Bagaimana mungkin negeri yang sedikit-sedikit penistaan agama, kata-kata suci sitiran dari Kitab Suci sangat fasih terdengar di ruang-ruang publik. Rumah ibadah tidak ada yang kosong. Udara juga mengantarkan alunan kata suci dan panggilan Ilahi sehari lima kali. Ritual ini dan itu berkaitan dengan agama begitu massif. Hari libur keagamaan mendominasi kalender warna merah di negeri ini.

Sayang seribu sayang, bahwa KPK saja membuat tagline JUJUR itu HEBAT. Padahal tidak. Jujur itu biasa, bukan prestasi, tidak sebuah capaian. Namun faktanya memang jauh dari harapan. Kala dunia akademik saja luput dari kejujuran, lha apalagi yang  menjadi karakter bangsa ini?

Agama sekadar symbol, ritual, hafal bukan amal, sehingga kala mampu menghafal, menyitir, dan berbusa-busa kata-kata suci dan saleh, seolah itu semua sudah menunjukkan mutu beragama yang sebenarnya. Padahal belum cukup. Masih jauh dari seharusnya.

Perilaku yang sejalan dengan apa yang dinyatakan itu baru tepat. Jangan sampai berperilaku munafik, di mana gambaran semata religious, saleh, namun perilakunya biadab. Mirisnya negeri ini dihidupi dengan model dan cara demikian. Sekadar chasing, atau bungkus, yang sering jauh dari mutu hidupnya.

Salam Penuh Kasih

Susy Haryawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *