Politik

Apakah Benar Nasi dan Kopi,  Membuat Miskin?

Apakah Benar Nasi dan Kopi,  Membuat Miskin?

Ngaconya BPS, Beneran Ngadain Survey atau Asumsi Gaya Hidup Sendiri?

BPS menyatakan, bahwa, uang rakyat dibelikan nasi, mie instan, rokok dan kopi yang membuat menjadi miskin. Perlu beberapa hal dilihat lebih dalam lagi, diulik lebih cermat lagi apakah demikian?

Pertama, orang, rakyat itu jika dibelikan rokok, hampir semua akan sepakat, benar itu sekadar gaya hidup, ada orang yang mengatakan membakar uang, tidak ada dampak baiknya sama sekali. Boleh dikatakan, membeli rokok menjadikan rakyat miskin. Toh, jangan menafikan bahwa itu juga sumber pajak salah satu yang terbesar di negeri ini.

Pendapatan pajak lebih gede dari  rokok dari pada yang berasal dari BUMN dan pengelolaan tambang, uangnya lari ke mana? Padahal rokok menghidupi banyak orang, beda dengan keberadaan BUMN yang mengelola uang gede.

Kedua, kalau gak beli nasi, memang masyarakat bisa hidup? Mau ganti apa? Jagung, terigu, atau ubi-ubian? Jangan mimpi, sudah tidak ada lagi warga negara yang makan selain nasi. Apa lupa siapa pencetusnya mendiang Soeharto. Mosok jika untuk pangan, kebutuhan primer itu membuat miskin, tapi kan hidup. Coba jika ditabung gak untuk makan, malah mati.

Beda, jika mengatakannya, buat jajan, makan-makan yang sering dibuang-buang. Toh, hal ini jarang untuk masyarakat kelas bawah, lain jika diasumsikan sebagaimana orang yang mengatakan. Biasa makan-makan dan tidak disantap serta berujung di tong sampah. Menuding rakyat yang membuat miskin, padahal gaya hidupnya sendiri. Cek saja di pusat-pusat jajan itu, biasanya pegawai termasuk pegawai negeri, bukan rakyat kebanyakan yang dituding menyebabkan miskin itu.

Ketiga, mie instan juga dituding menjadi penyebab kemiskinan. Ah yang bener saja? Wong karena miskin sehingga cuku makan dengan mie instan atau makan nasi lauknya mie karena sudah ada kuah dan kenyang. Rakyat biasa itu sederhana pokoknya kenyang, soal sehat itu urusan lain. Mau mikir makanan sehat piye, ketika tuntutan energi lebih gede.

Lagi-lagi malah menimbulkan tanda tanya, beneran ini riset yang dilakukan dengan benar? Kog malah cenderung terbaca sebagai sebuah asumsi sepihak. Tidak mendasar sebagaimana rakyat kebanyakan rasakan dan alami. Cenderung gambaran elit yang  menggunakan drone untuk melihat kebanyakan rakyat itu seperti yang ia bayangkan.

Empat, kopi. Rakyat secara umum ngopi itu ya sachetan, harga Rp.1000.00- Rp 2.000,00 per bungkus, atau maksimal tiga ribu rupiah per gelas. Tidak akan mampu membeli kopi di kafe, atau nongkrong sampai ratusan ribu per gelas sebagaimana di SB atau kopi hasil dari luwak.

Rakyat palingan membeli kopi jagung dengan merk nasional yang sangat laris. Kemampuannya ya memang itu. Jangan sampai asumsi elit diterakan pada ekonomi sulit.

Kopi sekarang sudah jadi kebutuhan. Menambah energi, semangat, dan kadang juga sekadar sugesti. Kebanyakan rakyat tidak untuk gaya hidup.

Sepakat jika menyasar gaya hidup elit yang menyebabkan rakyat miskin. Fakta yang ada sekarang ini, masyarakat melalui UMKM mengais-ngais sendiri. Negara tidak pernah hadir sejak awal. Namun nanti kalau sudah gede datang memungut pajak, belum lagi palak di mana-mana.

Makan dan ngopi sebagai gaya hidup yang membuat miskin, bisa diterima akal sehat. Jauh lebih mendasar kemiskinan di Indonesia itu sistematik. Di mana mental kepiting sangat kental. Mau merangkak naik akan dicapit untuk kembali jatuh. Yang sudah di atas, enggan untuk menarik rekannya naik dan berdaya.

Mafia di mana-mana, mau jual ini kena kuota, mau kirim ke luar negeri harus ikut asosiasi ini dan itu. Alam lingkungan negara ini luar biasa banyak, namun karena pengelolanya mafia, ya sudah, miskin itu melekat. Masih dipersalahkan lagi.

Salam Penuh Kasih

Susy Haryawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *