AHY dan Warna Politik
AHY dan Warna Politik
Keberadaan AHY bak magnet yang demikian menggiurkan. Muda, kaya, pemilik partai yang pernah besar, dan memiliki darah presiden. Wajar bacapres dan partai-partai berlomba mengajaknya berkolaborasi. Bersama-sama menjadi bacapres dan bacawapres.
Jelas pertama kali itu koalisi perubahan yang berubah menjadi koalisi perubahan untuk persatuan. Sejak tahun lalu tapi hanya maju mundur tidak ada kepastian. Satunya ngebet, lainnya malah leda-lede. Tidak juga terwujud sampai keluar ultimatum, Juni.
Pun tanggapannya malah menilai AHY memaksa diri harus jadi calon wakil presiden bersama Anies Baswedan, yang sejak awal udah ogah-ogahan. Simalakama.
Muncul tawaran dari PDI-Perjuangan untuk bertemu. Sikap kedua anggota koalisi malah bertolak belakang. SBY selaku bapak dan pembina partai merasa bahwa itu niat baik akan memberikan kebaikan. Nada sangat positif.
Elit Nasdem melihat dengan kaca mata lain. Ajakan Puan dan PDI-Perjuangan itu niatnya pasti buruk. Asumsinya memecah konsentrasi, bahkan membuat tercerai berainya koalisi mereka. Jelas karena suara PKS dan Nasdem saja masih terlalu jauh untuk ikut berkompetisi dalam kelas pilpres.
Beberapa kisah di atas mau memperlihatkan bagaimana dinamisnya politik itu. Pameo bahwa tidak ada kawan abadi ataupun lawan yang kekal benar-benar terjadi. Jadi aneh dan lucu saja, ketika masyarakat gontok-gontokan, bahkan sampai terputusnya relasi dalam keluarga atau bertetangga gegara politik.
Kepentingan yang menjadi pemersatu. Naif jika bicara perjuangan untuk anak negeri dan bangsa, apalagi politik dan demokrasi ala Indonesia. Jauh lebih jelas apa yang mereka mau peroleh dari negara ini. Kursi kekuasaan yang jauh lebih dominan menjadi orientasinya.
Salam Penuh Kasih
Susy Haryawan