TOP STORIES

Soal Mayor AHY Percaya Prabowo

Pilihan dia sebagai pribadi jika juga menjadi presiden adalah lockdown. Pilihan yang oleh WHO pun dianggap bukan jalan terbaik. Artinya lock down sebagaimana Amira dan juga AHY yakini itu salah. 

Kini, ketika Jateng menyatakan, tinggal di rumah dua hari saja, pasar-pasar langsung penuh orang. Seperti prepegan, sehari menjelang Lebaran. Ini hanya dua hari, tempe di pasar kampung habis. Coba kalau itu 14 hari, seperti apa keadaannya? Miris bukan pilihan si mayor?

Hal yang sama ketika kehebohan yang ia timbulkan. Pantas ketika para sesepuh seperti Marzuki Ali mengatakan kecewanya. AHY malah bersurat kepada Jokowi kalau istana mau mengkudeta kepemimpinannya. Hal yang sontak membuat riuh rendah perpolitikan nasional. Blunder yang sama dengan surat anaknya tempo lalu.

Kemudian timbul kembali pembicaraan dan analisis bahwa ini balasan, ketika dulu SBY juga melakukan “kudeta” PDI untuk   melengserkan Megawati. Hal yang sebenarnya tidak akan terjadi, jika Mayor {Purn) AHY bijak.

Eh malah para elit mereka kembali meributkan mengapa Jokowi tidak merespon surat AHY itu. Jokowi itu presiden, bukan semata mengurusi anak yang lagi baper karena gundunya jatuh di dalam got yang menghitam. Pekerjaannya sangat banyak dan tidak ada energi dan waktu hanya untuk memberi jawaban untuk AHY. Respon dari Mahfud, Moeldoko dan Prabowo sudah lebih dari cukup.

AHY dan elit Demokrat, harusnya juga paham, bagaimana sikap Jokowi. Dulu, ketika usai kalah di pilkada DKI, ia sowan kepada Jokowi dan hanya ditemui Gibran. Perlu diketahui AHY, Gibran waktu itu bukan siapa-siapa secara politik, tetapi kini adalah Walikota terpilih Solo. AHY masih juga bukan siapa-siapa.