Arogansi dan Ketidakpercayaan Diri Prabowo
Arogansi dan Ketidakpercayaan Diri Prabowo
Belajar dari Sahroni, Uya Kuya, dan Eko Patrio
Ketamakan menemukan muaranya. Penjarahan memang tidak dibenarkan, namun saluran mampet itu membuat kerusakan lebih besar. Arogansi yang terbalaskan dan itu tidak terduga. Siapa sangka rumah Sahroni porak poranda. Semua yang bisa diangkut dibawa. Jam tangan berharga milyaran, yang pasti penjarahnya tidak akan mampu menjualnya, apalagi memakainya. Jika benar penjarah adalah orang biasa.

Permohonan Maaf itu Luhur, Kecuali di Negeri ini
Ampang, alias hambar, ungkapan dan permohonan maaf di negeri ini. Sudah sering terdengar permohonan maaf, namun masih sering terjadi. Pelakunya sambil cengengesan, nangis namun air mata buaya. Tidak pernah ada perubahan sikap, wong pas minta maaf saja tidak merasa bersalah.
Sekadar seremoni, menyelesaikan masalah, dan nanti juga terlupakan sendiri. Ingat kisah-kisah intoleran. Hal ini pun terjadi dalam diri Eko, Uya Kuya, dan Nafa Urbach. Publik sudah apriori duluan. Tampaknya memang demikian. Lihat saja gaya Sahroni yang masih nyolot dalam rekaman media sosial, usai rumahnya dijarah.

Sejatinya permintaa maaf itu luhur, sangat berbudi, namun ternyata bagi bangsa ini, hanya lip service, sekdar penghias bibir. Tiada ketulusan. Hal ini tidak sekadar asumsi, rekam jejak sudah cukup banyak.
Ketidakpercayaan Diri Prabowo
Cukup lama Prabowo sebagai presiden, sikapnya selama ini malah cenderung kayak oposan atau lagi kampanye, memberikan tanggapan. Kerusuhan sudah tidak pantas lagi. Menjarah rumah-rumah pejabat, membakar kantor-kantor. Itu negara yang harus menanggungnya. Kondisi ekonomi sedang sulit, malah diperparah dengan kejadian ini.
Prabowo meminta rakyat percaya kepada pemerintahannya, padahal pilpres 58%, di Senayan 80% adalah pendukungnya. Tapi pasti nuraninya tahu bahwa ia tidak cukup yakin dengan persentase di atas kertas itu.

Tidak heran, gencar omong efisiensi namun ia membuat banda, utusan, dan Kementerian yang begitu banyak. Ini adalah bagi-bagi untuk timsesnya. Masih juga obral bintang yang kehilangan prestisenya. Memberikan kenaikan pangkat luar biasa bagi para jenderal purnawirawan. Semua untuk menutupi mindernya.
Salam Penuh Kasih
Susy HaryawanAndai Aku Menjadi Ayam Jago Aduanmu

Partai bisa kehilangan duit.
UUD ngeri wis