Satuan Layanan Pemenuhan Gizi
Satuan Layanan Pemenuhan Gizi
Pemenuhan Apa dan untuk Siapa?
Hari ini, berseliweran di lini masa mengenai makan bergizi. Eh di sekolah murid-murid juga mendapatkan jatah makan perdana. Bertanya bagaimana mereka menyikapi hal itu. Nada dasarnya sih kurang banyak, enakkan masakkan ibu di rumah, gak ada rasa, dan sejenisnya. Hal yang lumrah.
Depan sekolah itu dapur umum. Beberapa armada ada di depan dan samping tempat itu. Tergelitik tulisan besar-besar di armada dan juga plang nama dapur umum. ….PEMENUHAN GIZI…
Siapa dan Apa yang Dipenuhi Gizi?
Menari, pemilihan kata yang tidak pas. Laik diulik kata-kata ini, karena beberapa hal berikut.
Pertama, nampaknya, terutama di Kawasan kota-kota besar, Jawa Bali, sudah tidak ada yang kekurangan gizi, kecuali daerah 3T. Stunting toh lebih cenderung sekadar proyek, bukan semestinya terjadi demikian. Pemilihan kata pemenuhan gizi ini jelas keliru. Tidak tepat sepenuhnya, karena lebih banyak yang sudah terpenuhi gizinya. Berbeda jika itu dipakai untuk tahun 60,70-an. Tahun 80-an saja sudah tidak banyak lagi.

Ciri-ciri sederhana, perut buncit bukan saking kaya dan banyak makan, namun cacingan. Kurus kering, mata sayu, lemes. Anak-anak sekarang sudah jarang yang tampilannya demikian. Gizi sudah lebih cukup. Masalah adalah makanan tidak berimbang. Lebih banyak manis, gurih, dan asin. Tidak sehat karena tidak berimbang, bukan kurang gizi.
Kedua, gizi yang mana? Kala beredar gambar-gambar jatah makan yang cenderung minim nilai gizinya. Lauk protein sepotong kecil, sayur yang lebih banyak tidak segar, terlihat sudah layu sebelum dimasak, buah pun sangat kecil. Melihat sekilas saja sudah tidak cukup nilai gizinya. Lha bagaimana pertanggungjawaban moral atas tulisan PEMENUHAN GIZI.
Slogan, Ungkapan Harapan
Miris, ketika nama, slogan, atau semboyan saja sudah keliru, susah berharap untuk bisa mendapatkan hasil maksimal. Wajar banyak yang pesimis dengan program keren ini, ketika dalam benak saja sudah bertanya-tanya apanya yang mau dicapai. Seolah mengisi ember pecah, semua terbuang percuma.
Elitnya juga terlihat memang tidak siap, selain bicara ndakik-ndakik mengenai gagasan semata. Implikasinya amburadul tidak pernah terpikirkan. Kinerja yang terlihat di lapangan, pembicaraan di berbagai media juga menunjukkan hal yang jauh dari harapan.
Pesimis. Masih uji coba saja sudah terkesan jelek. Padahal jika sedang promo itu hal-hal bagus yang dipampang, kog ini malah jelek. Keracunan, menu yang asal-asalan, bagaimana kalau sudah berjalan rutin?
Salam Penuh Kasih
Susy Haryawan
