Beneran Bangsa ini Kurang Gizi!
Kurang Gizi Mental
Mendapatkan oleh-oleh buah jeruk. Sangat mulus, kinclong, dan tanpa noda. Melihat harganya empat hingga lima kali lipat jeruk yang ada di rumah. Jelas buah yang dibeli di pasar tradisional berbanding dengan jeruk impor. Secara penampakan memang bak bumi dan langit. Mengenai rasa sih tidak jauh berbeda. Masih bisa bersaing, apalagi jika dibandingkan dengan harganya.
Buah dalam Negeri Tidak Kalah
Sebenarnya buah dalam negeri jauh lebih melimpah jenis ataupun rasanya. Hanya saja sayang tidak pernah ada konsistensi tampilan. Benar, bahwa tampilan bukan segalanya. Toh pembeli tertarik dari penampakan dulu. Kadang rasa mengecewakan. Masalah perdagangan di negara ini adalah ini. Negara harusnya hadir untuk memberikan pendampingan, sehingga buah local juga bisa terserap dan menarik bagi para pembeli.

Budaya feodal yang lebih kental, sehingga senang dengan barang atau apapun yang berbau luar negeri. Apa yang berkaitan dengan hasil sendiri dianggap kelas kedua. Padahal tidak sepenuhnya benar.
Keberpihakan negara, suka atau tidak, pejabat di negeri ini cenderung menjadi makelar. Desas-desus mengatakan, bahwa kuota impor buah itu ada fee untuk para elit. Artinya memang ada keuntungan yang mereka dapatkan. Padahal petaninya mati-matian menanam harganya tidak seberapa karena banjir buah impor. Mirisnya lagi, buah-buah itu di sananya tidak yang terbaik. Jadi, masyarakat sini sekadar pasar saja.
Banjir barang impor, namun ekspor tidak bisa. Lagi-lagi soal mental. Diplomasi juga sangat lemah. Begitu banyak hal yang sebenarnya dan seharusnya bisa menjadi komoditas internasional. Ingat ratusan tahun lalu bangsa Barat sampai ke sini karena kekayaan alam itu. Mosok hal yang sama tidak bis akita lakukan. Era ini kan modern.
Negara Kudu Hadir
Tuntutan yang benar-benar mendasar. Mereka harus hadir untuk memberikan pendampingan, pembinaan, dan penguatan untuk para petani. Inovasi harus dihargai, jangan malah dibui. Menggerakkan ekonomi, bukan malah dimatikan dengan banjirnya barang-barang dari luar yang di sini juga ada.
Insentif. Berikan reward bagi peneliti dan penemuan, jangan malah anggarannya dibuat foya-foya yang tidak menghasilkan apa-apa. Bagaimana mereka semangat meneliti dan menemukan sesuatu jika malah dipojokkan?
Sikap mental. Mulai dari atas sampai bawah, lebih menghargai budaya, hasil, dan juga apapun yang berasal dari Indonesia. Ini bukan soal primordialisme, namun nasionalisme yang harus ditanamkan secara mendalam. Jangan sampai sekadar slogan dan ungkapan kosong.
Salam Penuh Kasih
Susy Haryawan
