Gibran, Kaum Muda, dan Adab

Gibran, Kaum Muda, dan Adab

Lagi-lagi pasangan 02 menjadi perbincangan publik. Kemarin, pas debat capres, Prabowo menjadi bahan pembicaraan karena emosi dan cara bertahan dia dan timnya. Bagaimana gambaran kedodoran capresnya dikemas bahwa penyerangan personal, dan  jajaran di bawahnya menjadi ikut meradang.

Masih belum cukup ketika mantan Pangkostrad era Orba itu malah keluar pernyataan tolol dan bego untuk sesama capres yang mengusiknya soal tanah yang dimilikinya. Hal yang berlebihan sebenarnya.

Kini, usai debat cawapres kembali menjadi pergunjingan. Lahir ungkapan songong, kemlinthi, dan tidak tahu adab. Mewakili kalangan generasi muda, namun malah  kedodoran, ketika  tampilannya tidak demikian, kurang mencerminkan adab generasi muda.

Debat itu mengenai gagasan, penyampaian visi dan ide, atau pemikiran, dan keberanian untuk eksplorasi kemampuan, bukan untuk mempermalukan dengan gerakan dan aksi yang keluar dari gambaran intelektualis.

Debat itu kemampuan berbicara dan juga bertukar gagasan dan pemikiran. Di sana boleh saling serang dan bertukar pikiran dengan cara yang keras sekalipun. Tetapi tentu saja dengan perilaku yang  beretika. Pikiran bukan soal otot.

Wajar ketika Gibran mendapatkan respons negatif     sangat tinggi dari netizen yang merasa sangat tidak pas. Menjebak dengan pernyataan dan pertanyaan sih sah-sah saja. Tetapi  tentu juga dengan cara yang berkelas, menggunakan kemampuan inteklektualitas, bukan hanya pokoknya memojokkan dan mendapatkan poin.

Hal yang seharusnya menjadi poin gede malah menjadi bumerang. Hal yang identik dengan debat capres kala tema Pertahanan malah Prabowo yang melakukan tugas sebagai Menhan kedodoran.

Mengapa demikian bisa terjadi?

Tim politik mereka sangat lemah. Terlihat dari beberapa kali debat, mereka malah menjadi bulan-bulanan. Cukup aneh, mengapa bisa demikian. Malah memperlihatkan keadaan yang semakin parah dengan aksi-aksi yang sangat tidak simpatik.

Jangan hanya berharap menjadi bahan perbincangan namun malah hanya mengandalkan sensasi dan blunder yang tidak berguna.  Mosok tidak ingat bagaimana Sandiaga Uno di pilpres 19 dan AHY di pilkada DKI.

Penguasaan materi yang perlu lebih diperdalam, ini tentu saja tugas tim politik. Mereka harus membekali banyak hal sesuai tema yang ada. kontraproduksi ketika harusnya menjadi panggung pertunjukan memperoleh poin besar, namun malah menjadi panggung tragedi, karena belepotan dan kedodoran sendiri.

Terlalu banyak drama, nanti pasti akan hadir pembelaan demi pembelaan yang berujung pada keadaan lebih buruk. Perlu diingat, jangan sampai seperti Prabowo kemarin yang  makin parah membela dirinya.

Pembelaan diri untuk mencairkan suasana juga tidak sepenuhnya tepat. Lihat bagaimana reaksi publik yang tidak senada dengan narasi membela diri itu. Luput terlalu jauh. Lebih baik berhenti dan biarkan saja publik “lupa.”  

Makin panas, makin lucu, makin asyik. Apalagi yang akan terjadi.

Salam Penuh Kasih

Susy Haryawan