Politik

Gorengan Merugikan Negara, Minyak Goreng Membuat Kepala Negara

Gorengan Merugikan Negara, Minyak Goreng Membuat Kepala Negara

Rakyat Selalu Salah, Pemerintah Tetap Benar

Pernyataan BPS yang mau menyenangkan penguasa, memojokan rakyat kecil. Miskinnya rakyat karena dipakai beli rokok, nasi, mie instan, dan kopi. Masih juga rilis yang mengatakan, jika rakyat penyuka gorengan itu merugikan negara hingga 60 trilyun.

Nah, layak diulik lebih dalam, mana lebih merugikan bangsa dan negara, bukan sekadar tudingan dan klaim.

Apakah benar sudah dilakukan riset, bahwa rumah sakit yang dipenuhi dengan penderita hipertensi dan jantung itu benar-benar penyuka gorengan? Atau lebih banyak mana, akar rumput atau elit? Jika kalangan atas, mosok sih penyuka gorengan? Bukankah mereka lebih banyak penikmat seafood yang sama-sama mengandung kolesterol tinggi?

Bisa disederhanakan juga, banyakan mana penyakit dalam yang terminal itu ada di RS Pertamina, Harapan Kita, atau rumah sakit tipe B atau C di kota kabupaten atau kecamatan.  Terlalu naif deh keknya kalau di RS Harapan Kita itu penikmat gorengan yang dirawat di sana.  Ataukah BPS menyimpulkan dulu berdasarkan asumsi? Miris jika demikian.

Minyak Goreng Hilang Jadilah Presiden

Rekan yang jadi caleg di sebuah kabupaten mengatakan, minyak goreng melimpah di rumahnya. Jelas dipasok oeh partainya. Padahal waktu ia mengatakan itu baru saja minyak goreng langka. Kog tiba-tiba melimpah ruah, hanya di rumah kader partai tertentu.

Minyak memang licin, dan mulus mendapatkan suara mutlak. Mosok kek ini tidak merugikan negara ya? Jelas karena negara itu adalah “milik” beberapa elit yang bisa menyebut kerugian atau tidak itu sesuai pesanan. Rakyat kecil itu hanya memiliki kesenangan sangat sederhana, kudapan atau makanan ringan gorengan, lauk pun gorengan. Eh malah dilabeli merugikan negara.

Padahal ada yang jadi pejabat negara karena minyak goreng. Selain sempat menghilang, ada pula botol minyak gorengnya diet. Tulisannya 1000 ml, isinya hanya 800 ml. Isi yang 200 ml raib, sama juga dengan penyelesaian botol kurus ini, raib entah ke mana.

Sama-sama goreng, satunya minyak, lainnya ada akhiran -an, beda nasib, karena memang kastanya jauh berbeda. Ya sudahlah terima label merugikan negara, wong penyuka gorengan. Tapi lumayan tidak dianggap miskin, bisa beli gorengan seperempat dari batas pengeluaran harian orang miskin. Padahal itu kepepet, bukan karena mampu.

Merugikan negara ndasmu, wong tidak mampu beli yang lain. Negara hadir oq pas memberikan label merugikan, coba datang itu  pas aksi intoleran, banyaknya mafia yang menghambat iklim usaha, atau keberadaan politikus busuk dan malas itu.

Menjelang 80 tahun kemerdekaan, kog keadaan tidak lebih baik dari masa penjajahan. Dulu diperas oleh imperialis asing, lha kini  pemimpinnya katanya saudara sebangsa, kog lebih rakus, dan tamak dari pada yang jauh dari luar sana ya?

Salam Penuh Kasih

Susy Haryawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *