Politik

Nasdem Balik Dukung Pilkada 24 dan Implikasi bagi Anies Baswedan

Menjaga diri untuk tetap masuk dalam radar pemilih itu sangat susah. Lihat saja bagaimana Harry tanu dan Wiranto pada menjelang pilpres 2014 lampau. Aneka cara mereka lakukan dengan tampil setiap saat di media jaringan milik Harry Tanu, toh tidak cukup signifikan bagi suara mereka berdua untuk sekadar menjadi kandidat.

Pun Gerindra mengucapkan selamat hari  apa saja melalui lagi-lagi televisi. Sama juga tidak membantu banyak capaian Prabowo dan Gerindra. Suara mereka memang cukup signifikan dibandingkan Harry Tanu dan Wiranto. 

Nasdem dan Surya paloh juga setiap saat tampil melalui MetroTV, toh suaranya tidak beranjak banyak dan cukup untuk bisa berbicara banyak. Kurang apa coba corong media elektronik yang telah menggaungkan mereka. 

Pada akhirnya tidak cukup memberikan suara yang diperlukan. Mereka memiliki jaringan sendiri, artinya masih bisa dibicarakan soal harga. Lha ini Anies, jika Nasdem yang mau menggeber dengan jaringan Metro dan Media Indonesia, dua tahun lagi, tentu sangat berat. Berbeda jika ia masih menjadi gubernur. Dana pemerintah, sah pula digunakan karena jabatan yang melekat.

Dua tahun tanpa panggung, jelas membutuhkan dana yang luar biasa besar untuk mengontrol dan malah kadang juga mengatrol nama untuk tetap eksis. Ingat, massa bangsa ini mudah banget melambungkan nama tetapi juga mudah banget lupa. Bisa celaka dua tahun tanpa adanya panggung yang cukup relevan untuk bisa berbuat banyak.

Simalakama Anies. Kelemahan paling fatal yang tidak pernah bisa menjadi kekuatan. Ia bukan orang partai politik. Tanpa akan merasa bersalah parpol akan mencari figur lain, termasuk Nasdem. Jangan kaget, pola pendekatan parpol bangsa ini masih berpusat pokok menang, modal kecil, hasil gede. Ala-ala makelar, bukan model negarawan sejati.

Salah satu andalannya selama ini adalah pokoknya dibicarakan, entah positif atau negatif, pokok ada panggung. Terbaru, penghargaan pahlawan transportasi. Entah dari mana, apakah itu relevan. Layak atau tidak, terbukti atau tidak, bukan menjadi pertimbangan bagi Anies. Sama juga dengan pernyataannya puku dua dini hari Jakarta tidak macet. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *