Politik

Peninggian Jalan Kaligawe Semarang

Solusi atau Masalah Baru?

Menarik, usai banjir besar beberapa waktu lalu melanda Kaligawe Semarang, kini ada rencana peninggian jalan hingga satu meter. Bisa dibayangkan, seperti apa, rumah-rumah yang ada di kiri dan kanan jalan, RS Sultan Agung, pabrik-pabrik di sana. Mobil keluarga yang ada di garasi besok akan bisa langsung menjadi landasan anak-anak yang berlarian, di atap mobil.

Kru bus tidak usah pakai tangga kalau mau bersihkan kaca mobil mereka, tinggal berdiri di tepi jalan, armadanya, dicuci langsung, dengan air yang ada, leluasa, sangat membantu benar gagasannya. Ini sih lelucon semata.

Arus Lalu lintas lancar

Melihat idenya, dan tuntutan yang ada memang mengenai arus lalu lintas, apalagi ini menyangkut antarprovinsi. Peninggian jalan semua teratasi, namun apakah demikian dengan kampung, kampus, rumah sakit, dan kawasan industri di sekitarnya? Jangan sampai nanti lapangan basket, lahan parkir Unisula jadi danau tidak sengaja.

Air akan mencari daerah yang lebih rendah, itu alamiah, kodrat, kalau pakai Bahasa Anies Baswedan. Jalannya tinggi banget, air akan mengalir ke daerah yang rendah. Bisa diperkirakan air akan membanjiri kampung-kampung di sana masuk melalui jalan-jalan dan juga gang-gang yang ada.

Berapa kerugian masyarakat di sana yang harus meninggikan jalan atau gang masuk ke perkampungan mereka? Satu meter itu sangat terjal dan butuh beaya banyak untuk bisa sejejar dengan jalan raya yang dinaikkan satu meter.

Kemacetan yang ditimbulkan selama peninggian jalan juga sudah bisa terbayangkan. Lha menambal jalan berlobang saja sudah membuat macet, apalagi ini, mengubah tinggi badan jalan sampai satu meter. Sama juga membuat jalan baru. Arus lalu lintas mau dialihkan ke mana coba?

Kecuali, alat-alatnya sudah super canggih seperti di luar negeri. Lha di sini, alatnya saja cuma sebiji,  karena memang dibuat lama, sebagai proyek yang tidak akan ada habis-habisnya. Rakyat lagi yang harus menanggung ongkos kebodohan pejabatnya.

Jalan ini sangat tinggi, misalnya lebih tinggi dua meter dari sekarang sangat bagus, jika dibangun di tepi laut sana, menjadi benteng, mencegah air laut masuk ke daratan, dan menampung “pembuangan” dari daratan. Pastinya dengan pompa, bukan dengan membuat sumur resapan to.

Jalan lama yang ditinggikan ya akan menimbulkan banyak masalah.  Studi banding ke Belanda hal ini penting dan sangat bagus, karena memang dibutuhkan. Tidak seperti selama ini, studi banding namun isinya pesiar, tanpa ada ilmu yang dibawa pulang.

Paham bahwa banyak Kawasan di bawah laut, namun tidak memiliki tenaga ahli yang mencukupi, baik jumlahnya, ataupun kemampuannya. Minim banget, lha mengaku negara agraris, toh pangan dan semua produk pertanian juga banyakan impor.

Negeri ini kaya, namun dikelola dengan sangat ngawur, sehingga malah menimbulkan masalah bukan manfaat. Air melimpah, namun menjadi kerugian, karena tidak diatur dengan cerdas.

Salam Penuh Kasih

Susy Haryawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *